Bulan Lewat Sore direngkuh Awan

Udara belum melepaskan. ini sudah hari kesembilan. sekejap datang, sekejap hilang. sekejap datang, lalu enggan meninggalkan. luka belum rela terlupakan. perih belum hendak meniadakan. Langit terus dan terus berpikir keras agar tak sampai aku tertelan Kegelapan. ia memanggil Sore dan mengundang Awan. ia bersenandung menyambut hadirnya Bulan.

Udara belum terlegakan. ini sudah hari kesembilan. sekejap tenang, selanjutnya meradang. sekejap tenang, sisanya dipenuhi erang kengerian. luka belum rela terlupakan. perih belum hendak meniadakan. Langit terus dan terus berupaya keras agar tak sampai aku menjadi Kegelapan. ia membiarkan Bulan dicanda Awan. di selewat Sore yang mestinya tak sama dengan kemarin yang lebih dulu sambang.

Udara menatap Tuhan. Langit melagukan pinta-pinta yang ingin bersegera dikabulkan. luka belum rela terlupakan. perih belum hendak meniadakan. namun aku sudah mampu tegak menyaksikan. itu Bulan Lewat Sore direngkuh Awan.

(foto oleh: Kuke)
(foto oleh: Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s