ia juga Arjuna. ia bertangan seribu.

Wayang dan saya adalah keintiman yang bertumbuh-kembang sejak kecil. Pertunjukan Wayang Kulit dan Wayang Orang yang disiarkan TVRI jadi salah satu acara favorit saya selain film-film kartun dan film akhir pekan. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bisa menikmatinya dari kotak yang mengeluarkan gambar bergerak hitam-putih-abu dan suara.

Bapak (baca: Kakek saya) yang menularkan kesukaan itu dan selalu bersedia menjadi penterjemah pun tak ragu untuk kemudian menambah satu menu di agenda akhir pekan saya. Ya, ada kalanya di Sabtu malam, tepatnya di waktu yang tidak terlampau lazim untuk mengajak seorang bocah perempuan yang belum masuk usia pendidikan dasar bepergian ke luar rumah, Bapak mengajak saya ke daerah Kampung Lalang yang jaraknya relatif jauh dari kota Tebingtinggi. Untuk apa? Untuk menonton Wayang Kulit secara live tentunya ^_^ dan secara tak langsung keberadaan saya membuat suasana pertunjukan semalam suntuk itu menjadi berbeda. Dalam radius kecil saya diamankan dari asap Rokok, disuguhi Teh hangat bukannya Kopi Tubruk, dibalut Jaket memadai. Tak ada kawan sebaya memang. Tapi saya berteman dengan semuanya ~,~ sudah pasti bertambah menyenangkan lagi karena dalam sekejap saya punya banyak “Mbah”.

Ada suatu malam, sebelum pertunjukan dimulai, saya bertanya pada Mbah Dalang, “Mbah, ada nggak wayangnya yang keren??”

“Yang keren, Ke?”

“Iya, yang keren. Yang tangannya bisa banyak muter-muter gitu loh.”, tangan-tangan mungil saya menjadi peraga, berharap Mbah Dalang mengerti apa yang saya maksud.

“Loh, kan ada Rahwana? Waktu itu kan sudah lihat? Lupa yaa..”

“Nah kan Rahwana itu jahat, Mbah. Kalo yang baik, ada nggak yang tangannya banyak kayak Rahwana?”

Mbah Dalang diam dulu, berpikir keras sampai keningnya berkerut-kerut. Dari kejauhan Bapak memberi isyarat agar tidak mengganggu. Tapi si Mbah Dalang yang mafhum langsung melambaikan tangan seperti ingin berkata, “Ndak apa-apa..”

“Ada nggak, Mbah?”

“Hemm.. ooohh.. iyaaa.. ada.. ada..”

Sekejap kemudian, saya ingat betul, saya sudah mengikuti gerak-gerik Mbah Dalang mengeluarkan semua wayang yang tersisa di kotak penyimpanan (yang lainnya sudah rapi disusun di dudukan kiri-kanan). Satu wayang. Dua wayang. Tiga wayang. Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan akhirnya dikeluarkanlah se.. eh.. bukan satu.. melainkan dua sosok Wayang Kulit yang berbeda satu sama lain.

“Dua?”

“Iya.. dua..”

“Yang tangannya banyak yang mana?”

“Yang ini, Ke..”

“Namanya yang ini siapa?”, tunjuk saya pada satu yang tampan, bukan yang berbanyak tangan.

“Arjuna Sasrabahu.”

“Nah kalo yang ini, Mbah?”

“Arjuna Sasrabahu juga.”

“Loh? Kok sama? Anak kembar juga namanya nggak sama.”

“Bukan kembar. Mereka satu.”

“Satu?”

“Iya, satu. Sebenarnya satu. Tapi, ketika Prabu Arjuna Sasbrahu bertiwikrama, ia akan berubah jadi Raksasa Bertangan Seribu.”

“Tiwi.. aaa.. seperti Kresna?”

“Ya betul, seperti Kresna.”

“Loh? Titisan Wisnu juga?”

“Iya. Arjuna Sasrabahu ini titisan Wisnu juga.”

“Angkara mana yang dilawannya, Mbah?”

“Salah satunya Rahwana.”

“Loh? Bukannya Rahwana itu angkara buat Rama?”

“Jadi, waktu itu Arjuna Sasrabahu sudah pernah bertemu Rahwana, sudah hampir menumpasnya, tapi dilarang Naradha.”

“Karena?”

“Karena belum waktunya, Ndhuk.”

“Oooo..”

Tanpa ada sedikit pun keluar kata meminta, Mbah Dalang menyodorkan kedua Arjuna Sasrabahu itu ke kiri-kanan tangan-tangan mungil saya. Senyumnya seperti cerminan dari senyum kegirangan saya diizinkan bersentuhan dengan keduanya. Saya berlagak memainkan kedua Arjuna. Saya sempat-sempatnya memamerkan pula pada Bapak yang sedang asyik ngobrol dengan kawan-kawannya.

“Arjuna..”, ke kiri disibak.

“Arjuna..”, ke kanan disibak.

“Kuke suka?”

Rasanya seperti ada yang menyala. Meski saat itu saya masih terlalu kecil, sekarang setelah ulang ditelusuri, saya bisa paham itulah kegairahan yang punya andil dalam menghidupi saya. Dalam ingatan, saya ingat waktu itu saya menjawab pertanyaan Mbah Dalang dengan anggukan kuat yang lebih dari satu kali. Ternyata, saya benar-benar suka. Ternyata, tak cuma Rahwana yang punya keseribuan itu!

Bapak pasti akan segera memanggil, waktu pertunjukan hampir tiba. Mbah Dalang membiarkan dan mencicil membereskan wayang-wayang yang tadi dikeluarkan, dirapikan kembali di dalam wadahnya. Sementara saya asyik saja menikmati beberapa menit penuh kekaguman dan khayalan dengan Arjuna Sasrabahu dalam genggaman.

“Mbah.. Mbah..”

“Dalem..”

“Nanti mainkan Arjuna Sasrabahu, ya? Boleh? Yang lawan Rahwana, boleh?”

“Boleh..”

Saya tak ingat persisnya saat itu sudah dini hari pukul berapa. Lebih baik memuaskan diri bersama kedua Arjuna yang lebih keren (menurut saya) dari Arjuna tampan lima bersaudara Pandawa. Itulah kali pertama. Ia juga Arjuna. Ia bertangan seribu. Saya ingin berkenal akrab dulu dengannya sebelum harus segera berpisah.

Arjuna Sasrabahu dalam keadaan tiwikrama
[sumber: BlackShadow]

Catatan:

Tiwikrama: 1 pengubahan diri menjadi raksasa dsb (dl cerita wayang); 2 pengerahan segenap tenaga dan pikiran untuk menyampaikan maksudnya; ber·ti·wi·kra·ma v melakukan tiwikrama [sumber: ArtiKata, Tiwikrama, http://www.artikata.com/arti-354747-tiwikrama.html ]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s