Bu, apa tak bisa kau membuatku berkuasa? atau memintaku pulang saja? aku sakit hati pada tempat tinggalku!

Bu, aku sakit hati pada tempat tinggalku. di sini, selain yang bernama Manusia, dianggap tak ada harganya. meski tak jarang, sesama Manusia pun terlalu sibuk saling membinasakan sesama. entah apa maunya, entah apa alasannya. dalam kesadaranku, aku terus kekurangan Udara. telinga dan sekujur tubuhku terus mendengar erangan Air yang dekat ajalnya. aku melihat sendiri Pepohonan diperlakukan macam Benalu Pemangsa. dihabisi. dihabisi. dihabisi. ditanam lagi. ditanam sebagai penggenap serangkaian formalitas dan kebutuhan membiakkan Tanaman Hias Penanda bahwa mereka adalah orang-orang yang layak ditinggikan derajatnya. mengerikan!

Bu, bagaimana cara agar aku bisa berkuasa memusnahkan kesemua mereka yang terlalu ceria menebarkan Benih-benih Kematian? aku muak, Bu! bahkan Tuhan diperlakukan seakan buta tuli akan segala keadaan! manalah bisa aku terus berdamai dengan rintihan Bukit-bukit yang terus dilahap. rasanya tak akan sanggup jika aku hanya harus terus menyaksikan apa yang mereka sebut Rumah itu bertumbuh, bertumbuh, berdiri di mana-mana sementara Rerumputan kehilangan haknya. Bumi sendiri kebingungan, Ibu. betapa aku melihat sendiri habislah tangan-tangan ajaibnya. dia menghidupi semua penghuninya, dia juga harus bertahan menghidupi dirinya,  sementara dia pun tak tahu lagi harus bagaimana dengan ketidakseimbangan yang terus menggeroti macam Kanker Ganas. aku tahu tak sampai dayaku sebesar Pemilik Semesta untuk menyombongkan diri bisa menyembuhkannya, Bu. tapi, apa tak boleh aku membantunya kembali hidup dan berbahagia senantiasa?

Bu, tolong katakan padaku, apa memang begitulah adatnya para Manusia? hanya ingin mereka saja satu-satunya yang hidup, yang sejahtera, yang bahagia,  lalu dengan sadar mengusir Semesta sekaligus Tuhan biar tak lagi campur tangan? aku tak suka tinggal di tempat ini, Bu. meski aku susah payah bertahan untuk tidak sedikit pun membencinya. apa tak bisa kau membuatku berkuasa? atau, apa tak sebaiknya kau memintaku pulang saja? aku tak suka jika hanya harus terus mengetahui sekian banyak hal, hanya boleh merekam dan mengabarkan kesemuanya itu dengan sekian selipan pesan yang sudah kau titipkan. darahku tak mau diam, Bu! aku ingin berbuat sesuatu yang lebih dari itu! tolong izinkan aku. tolong izinkan aku! tolong.. izinkan.. aku..

Bu, aku sakit hati pada tempat tinggalku. kau harus tahu, bahwa di sini selain yang bernama Manusia dianggap tak ada harganya!

– – – – – – –  

entah sudah benar, entah masih salah. telah aku sampaikan keresahan yang kalian titipkan.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s