bukan telah tertidur. tidak sudah terbangun. ini nyala dari redup.

aku bukan telah tertidur. aku tak bisa bilang kini aku sudah terbangun. dan tepat ketika tuk tuk Piano runut diketuk dalam kecepatan yang kadang terkejar kadang tak ternalar, aku seketika nyala dari redup. ditingkahi rengekan Biola juga kegairahan Gitar, maka segenap penolakan kabur meninggalkan keberadaanku yang di ambang angan-angan.

aku bukan telah tertidur. tidak juga aku sudah terbangun. aku hanya seketika nyala dari redup yang merasuki bagai serbuan ganda Kala dan Durga. ditingkahi jiwa-jiwa yang menghidupi ketuk Piano, rengek Biola, serta kegairahan molek si Gitar dengan keseluruhan penghambaan pada Nada.

aku tak boleh lagi tertidur. harus kulambaikan tangan berupa kapan-kapan saja pada terbangun. aku tak boleh lagi main jauh-jauh dari nyala, atau redup akan menelanku selamanya.

— Bandung, waktu Siang semakin menelan habis daya yang Pagi hadiahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s