itulah cara Tuhan menjagaku

hari ini, tanggal ini, detik ini, memang tidak tercatat sebagai waktu-yang-perlu-diingat-karena-istimewa. namun di hari ini, tanggal ini, sekitaran detik-detik ini, aku terbangun untuk kedua kalinya dari tidurku dengan Gebu Rasa yang tingkatannya sedikit lebih turun dari kemarin. ya, aku sudah tahu pasal apa itu terjadi. aku kebanyakan mengkonsumsi Telur dalam 1-2 minggu belakangan. ada Telur Ceplok, ada Telur Dadar, ada Telur Balado, ada Telur yang jadi campuran Mi Rebus atau Nasi Goreng. sungguh bukan hal baik mengingat kadar Kolesterol-ku itu gampang sekali naik jika sedikit saja tak tertib. padahal aku sudah berhasil mengurangi konsumsi Daging hanya dengan sekali makan seporsi Sate Ayam dan sekeping Dendeng Kering dalam rentang bersamaan.

hari ini, tanggal ini, di sekitaran detik-detik ini, aku terbangun untuk kedua kalinya dari tidurku dengan rasa agak sedikit tak karuan menyerbu tubuh. alarm sudah berbunyi secara alami, aku sudah tak bisa terus bersuka-suka hanya meminum macam-macam Teh juga Sari Buah dalam kemasan. sebotol besar Air Bening akan menjadi kewajiban utama sampai nanti “triiing!” dan aku sudah boleh sedikit mengabaikannya kembali. hihihi.

aaah, ya. hari ini, tanggal ini, di sekitaran detik-detik ini, jadilah aku tanpa sengaja memutar ulang rekaman ceritaku sendiri. tentang sesuatu yang biasanya aku simpan rapat-rapat dan hanya akan menjadi jawaban ketika muncul pertanyaan. jika ingin dinyatakan sebagai keistimewaan, setahuku yang begitu itu tak pernah dianggap sebagai keistimewaan. jika ingin dinyatakan sebagai karunia, sepahamku yang begitu itu seringnya ditasbihkan sebagai tak-menyenangkan, hukuman, ujian, cobaan, malah kutukan. jarang sekali — atau kalau boleh aku menyatakannya: sangat jarang — orang (baik itu si yang-merasakannya-langsung atau siapa saja disekitarnya) menerimanya dengan baik.

apa kau pernah langsung bisa menduga tubuhku ini ringkih sejak kali pertama kita bertatap muka? hehehe, biasanya sih tidak. meski saat itu aku tengah muncul dengan Flu atau Batuk bahkan berona pucat, biasanya tak pernah ada yang bisa mengetahui ada yang berbeda dengan kondisi tubuhku. apalagi jika saat itu pun aku sedang asyik menikmati kegiatan di tengah bentangan Alam atau berada dalam rangkaian perjalanan ke tempat-tempat yang menjanjikan beragam pengalaman baru, tubuhku seperti mampu menutup rapat dirinya dari rona gelap lalu memilih berpendaran padahal didalamnya sama sekali tak ada sumber cahaya, padahal faktanya dia lemah.

ya. fakta. adalah sebuah fakta bahwa tubuhku sudah lemah sejak masih bernama Janin. aku tak mau menduga-duga itu karena Sel-sel Pembentuk-ku yang tidak berjumlah tepat. aku juga enggan berlama-lama dengan informasi tentang faktor Psikologis yang juga memungkinkan hal itu terjadi. ketika aku pada akhirnya harus rela melihat Dunia lebih cepat dari masa normal pun, tak ada yang bisa menghapus rasa terima kasihku buat Tuhan. tangis pertamaku adalah tanda bahwa aku telah lulus ujian awal. kala itu di dalam jiwa dan darahku Tuhan secara sah menyematkan mantra dan penanda: Pejuang. sungguh itu sebuah kebanggaan tak terlupakan. dan aku tak mau melupakan kebanggaan itu dengan mudah sampai nanti tiba saat aku harus berakhir. aku sudah berjanji pada Tuhan juga pada diriku sendiri.

begitu mudah tertular Flu dan Batuk. ada jadwal tetap Radang Tenggorokan mampir. Darah Sarsaparilla yang ‘lucu’. suhu tubuh naik-turun sesuka ia mau. alergi ini, alergi itu. temuan Virus dan Bakteri yang seringnya membuat siapa pun mengernyit bingung. aku tumbuh dengan semua itu. meski aku disinyalir sebagai si Hiperaktif/Superaktif, aku bisa mendadak diam seribu bahasa tanpa ingin protes pada siapa-siapa. entah apa kemudian aku akan lebih rajin duduk manis ketimbang mondar-mandir sana-sini, atau justru berbaring menurut melupakan betapa aku ingin ikut bermain Layangan dan jalan-jalan dengan para Om (adik-adik Mama), aku bisa mendadak hening. tanpa tangis tanpa keluh jika aku belum benar-benar sampai di puncaknya kesakitan. tak terperangkap histeria bahkan ketika pernah sampai marah pada Tuhan. semua terjadi begitu saja seperti ya sudah begitulah mekanismenya.

pelan-pelan, aku seperti diajarkan untuk mengenali kelemahanku. pelan-pelan, aku bisa menertibkan diriku sendiri tanpa harus para Dokter bertindak galak terlebih dulu. aku dengan senangnya mengakrabi Aroma Rumah Sakit meski selalu menolak untuk berada di sana dalam waktu lama jika tak terlalu darurat. aku suka sibuk-sibuk sendiri membaca apa saja yang bisa aku baca di Ruang Tunggu mana pun yang aku singgahi. aku menghapalkan kesetaraan pengambilan darah dari lengan kiri dan kananku biar mereka tak perlu merasa tidak diperlakukan adil. aku suka memperhatikan perubahan warna darahku dari waktu ke waktu, sampai kemudian (akhir-akhir ini) aku lebih sering mengenalinya dalam warna Sarsaparilla, tidak sering pucat lagi. aku bisa dengan sok tahunya membedakan mana Perawat yang Ahli Jarum Suntik dan mana yang tidak. bahkan tanpa sadar aku jadi suka merekam dalam ingatan apa saja Peralatan Medis yang sudah pernah aku rasakan langsung dengan tubuhku. tapi ada satu yang sepertinya kurang begitu aku suka jika harus aku alami kembali: dinginnya Meja Operasi.

semakin menua hitungan umur, semakin aku merasa mampu hidup dengan ketidakbebasan memberdayakan tubuh sendiri. (anehnya) tak sedikit pun aku merasa rugi dengan berbagai hal yang terlewat ketika aku memilih membiarkan tubuhku beristirahat agar tak terlalu kesakitan. seringnya justru aku terhindar dari hal-hal yang bisa dibilang berpotensi berdampak buruk lebih dari dugaan. sehingga aku semakin mengerucut sampai pada satu kesimpulan bahwa itulah cara Tuhan menjagaku. sempat ada sedikit pemberontakan jiwa perihal ketidakmampuanku menjadi Pendonor Darah. tapi itu pun kemudian secara perlahan bisa aku terima dan aku alihkan saja dengan melakukan apa yang aku bisa lakukan jika kebetulan ada entah siapa yang membutuhkan bantuan. bukan hanya darah kan yang bisa membuatmu menjadi berguna?

hari ini, tanggal ini, detik ini, memang tidak tercatat sebagai waktu-yang-perlu-diingat-karena-istimewa. namun di hari ini, tanggal ini, sekitaran detik-detik ini, aku tengah berkompromi dengan tubuhku sendiri. seandainya kau ada didekatku, pasti kau bisa melihat langsung aku sedang mengetikkan semua ini sambil menyunggingkan senyum. aku sungguh tak punya alasan untuk mengeluh, tak punya alasan untuk menangis minta dikasihani, meski sempat terbetik ide untuk meminta sedikit dimanja oleh Kekasihku nun di sana itu. adanya aku mengerling pada Tuhan dengan cara paling manis, lalu cengengesan mengingat keteledoranku sendiri terbuai kenikmatan Telur yang diolah dengan cara rupa-rupa.

hari ini, tanggal ini, sekitaran detik-detik ini, sekali lagi Tuhan menjagakanku dari sesuatu yang belum aku ketahui apa dan seberapa buruk dampaknya. tak masalah aku jadi tak bebas keluar kamar, tak bebas sembarangan jajan dan makan, harus melupakan sementara Teh dan Sari Buah kesukaan, karena itulah cara-Nya menyayangiku. kecup sayang sudah untuk Tuhan yang terus menjagaku. aku yang terlalu banyak lupanya ini.

(foto milik: Kuke)
(foto milik: Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s