Lelaki Kecil Tepi Langit

tersebutlah ketika datang masa kita bertemu untuk kali pertama. dimana tak bisa kukatakan sudahlah aku jatuh cinta. dimana tak bisa juga kupastikan apa yang terjadi padamu ketika berdetak kemudian sudahlah kau dipenuhi kerjapan gembira. bersama jalan putaran Semesta, selanjutnya tersadari begitu saja bahwa kehadiran Langit dalam seluruhmu membuncah nyaris tak pernah masuk jadi sangka.

siapakah aku bagimu? siapakah kau untukku? aku tak menemukan segera jawaban. adanya hanyalah tuntunan pada pertanyaan-pertanyaan yang berbaris rapi membentuk deret beraturan. mengapa kau beri aku ketakbiasaan itu? mengapa juga aku harus begitu mudah merindu? Langit yang mendadak cerah di setiap ada janji untuk bertemu mungkin telah perlu kita tafsirkan sebagai perwujudan sesuatu yang bisa jadi sudah kau bawa dalam pengetahuanmu namun belum terbuka di kedalaman nyawaku.

Lelaki Kecil Tepi Langit, jangan bilang bahwa nun dalam Dunia Jiwa yang lebih purba dari Kehidupan Semesta, kita ini terkait bagaikan Maharani dan Maharaja. setiap kali dalam ketaksengajaan tatapan kita menyatu jumpa, dalam senyum yang seakan tak pada umurnya, aku seperti merasa kau telah meminang hatiku berlipat milyaran tahun lalu lamanya.

Angin Laut - Damar Tepi Langit (foto oleh Kuke)
Angin Laut – Damar Tepi Langit (foto oleh Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s