Ibu dalam Debu

dia terseok melangkah, menghirupi Debu-debu yang tak kenal jeda. Matahari menerik. Siang meninggi. Langit membias sangsi. sudah bisa ditahankannya jejak perih setiap sayatan pada permukaan rasa. sudah dikendalikannya limbung pedih setiap tekanan pada dinding detak kehidupannya. Ibu tak lagi punya tangis untuk menemani kekalutan. Ibu tak lagi punya amarah untuk mempertahankan diri dari reruntuhan.

dia terus terseok melangkah, meningkahi Debu-debu yang tak kenal hela. Matahari membakar. Siang menampar. Langit telah memutihkan Biru yang harapan. sudah tak kuasa direngkuhinya setiap rayuan bujuk pada laju darah. sudah tak kuasa diciuminya tingkahan kasih pada lembut mengerut kedua pipinya. Ibu tak lagi punya senyum untuk mengobati kecemasan. Ibu tak lagi punya ceria untuk membentengi diri dari kehancuran.

oh, Ibu dalam Debu, apa kau mampu menerima Doa-doa kecilku yang mungkin macam serpih tak bermakna bagimu?

(sumber gambar: 123rf.com)
(sumber gambar: 123rf.com)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s