Malam mereka datang membakar Bulan

1/ – 21.00 WIB :: 07.06.2012

Panas tak pernah menyergap tanpa sebab. Benteng Angin tak pernah tegak jika tak ada usikan menyelinap. aku menyimak sekecil apa tangkapan suara hingga derap langkah Jangkrik menyusur Hutan Pinus. aku melihat bahkan sekumpulan Semut tengah rapat besar sebab Utusan bangsa Asteroid yang sudah siap turun lurus. mengapa Malam alihkan Hitam Gelap pada segerumbulan Jingga Bara? mengapa rusuh sekali para Telik Sandi bangsa Angin mengabarkan berita yang bergaris bawah Bencana? ada apa? seputaran aku memaksakan diri menangkap pertanda. ada apa?

2/ – 22.33 WIB :: 07.06.2012

“Kalaaaa.. Kalaaaaa.. Kalaaaa..”

“Durgaaaaa.. Durgaaaa.. Durgaaaa..”

“Dasamukaaa.. Dasamukaaaa.. Rahwanaaa..”

Api. Api. Api. berpusaran cepat memancing Ruh Inti Angin keluarkan murka melupakan jiwa. Api. Api. Api. berkobaran melaknat Kehidupan berusaha mencapai akarnya. Api. Api. Api. Jingga Bara sudah datang. Raksasa-Raksesi Angkara menyaru Awan memangsa setiap jengkal temuan. anyir. satu persatu Moksa. gegap gempita. anyir terhisap Pusaran Api. Jingga Bara meledak-ledakkan tiap titik Udara. riuh. lolongan Bintang yang terbunuh. jeritan Langit yang menghangus. lenguhan Awan yang terpaksa luruh. Api. Api. Api. mereka menuju Bulan. mereka berputar mengelilingi Bulan. mereka menuju Bulan. mereka ingin membakar juga Bulan?!

3/ – 23.49 WIB :: 07.06.2012

“sudah waktunya kau kenakan Jubah Perangmu, Angin. mau tidaknya engkau turun berperang, apa lagi yang bisa aku katakan selain ini semua sudah menjadi tanggung jawabmu. kau adalah salah satu Penjaga Semesta. sejak lahir — bukan hanya dipundakmu melainkan di setiap titik pembentuk dirimu — sudah tertera apa-apa saja yang harus kau lindungi dalam sadarmu atau tidak ketika kami kirimkan kau dalam tubuh tampak Manusia. meski Damai kita sama tahu dibutuhkan agar kelangsungan Kehidupan dapat berputar jauh lebih lama, Angkara tak akan pernah bersedia diam, anakku. sini. biar aku kenakan Jubah Perangmu. sudah waktunya. manfaatkanlah segala ilmu yang telah kau serap di sepanjang perjalananmu. gunakan hati sekaligus kebebasanmu itu. jagalah Semesta sekuat-kuatnya. jangan sampai mati! cuma itu pesanku. jangan sampai secepat itu mati! aku menunggumu pulang. nanti aku dan Poseidon akan masakkan semua yang kau suka. nanti aku titahkan Laut dan Pelangi menyambutmu dalam irama yang paling kau suka. kau adalah salah satu Penjaga Semesta. jangan takut! jangan ragu! jangan mengaduh mengeluh! laksanakan tugasmu. aku ibumu, yakin kau mampu.”

4/ – 00.01 WIB :: 08.06.2012

mengapa membakar Bulan dengan Api sebesar itu? mengapa melahap keseluruhan Langit, Awan-awan, sampai Bintang-bintang yang bahkan setengah Debu tanpa berpikir kau-ia-dia-kalian telah merenggut sedikit demi sedikit Jantung Semesta mendekat maut? apa yang dimau? apa sebenarnya cuma aku? sebesar apa dendammu? sebesar apa marahnya? sebesar apa angkara kalian? jangan bakar Bulan! jangan ganggu Langit! jangan lelehkan Awan sampai Bintang! lihat apa yang kau-ia-dia-lakukan! langsung datang sini padaku! hadapi aku!

mengapa demi bergolak darahku, kau bakar Bulan itu? mengapa demi puncak amarahku, kalian sakiti Semesta yang bahkan tiada tahu? mengapa demi tampaklah wujud asliku, kau-ia-dia-kalian tega mengacaukan keseimbangan yang seujung kuku pun tak akan bisa dibandingkan hanya dengan apa yang kalian tujukan padaku? apa yang diharap? apa yang diminta? apa sebenarnya cuma aku? sebesar apa rasa tak sukamu? sebutuh apa sampai kalian nyalakan angkara? jangan bakar Bulan! jangan ganggu Langit! jangan lelehkan Awan sampai Bintang! lihat apa yang kau-ia-dia-lakukan! langsung datang sini padaku! hadapi aku!

5/ – 01.08 WIB :: 08.06.2012

Malam. mereka datang membakar Bulan. Angin — anakku — kulihat pula tangguh berperang. lihat! lihatlah itu! sekelebatan menampik Api datang, sekelebatan memadamkan kesakitan tubuh terbakar. berusaha memaafkan, apa daya Raksasa-Raksesi tak kenal kata-kata selain “hancurkan semua!”.

Malam. mereka datang menghabiskan Langit, Awan, Bintang, sebagai santapan. mungkin ada satu yang belum sampai aku katakan. sengaja tak aku katakan. Angin adalah Panglima. Angin adalah Ksatria. bukan sekedar Penjaga Semesta. aku tak boleh membantunya. mungkin hanya doa. itu saja boleh bisa.

Malam. degup jantungku sungguh tak karuan. Angin — anakku — sedang menjawab tantangan perang.

*******
Semesta menyimpan banyak rahasia.
kata-kata tak pernah cukup untuk mengungkapkannya.

(sumber gambar: Google)
(sumber gambar: Google)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s