Dia Perempuanku

“Dia Perempuanku” dibuat dan dikirimkan ke Redaksi poscinta.com pada awal Mei 2012. terlepas dimuat atau tidak, aku melakukannya dengan sadar dan senang. termasuk ketika justru menjadikan aku yang perempuan menuliskan perihal kegelisahan seorang lelaki akan perempuannya. aku tak berharap apa. hanya saja, jika ternyata dimuat, aku percaya karena memang lulus uji untuk dimuat.

jadi. sekarang. malam ini. ketika aku menemukannya setelah harapan malah aku kelanakan di tempat-tempat lain. sungguh kebahagiaan sederhana yang tak sesederhana itu maknanya. tak ada kalimat lain lagi: Terima Kasih ^_^v

# # #

D I A    P E R E M P U A N K U

oleh @aykuke (25.05.2012 – poscinta.com)

(sumber gambar: poscinta.com)
(sumber gambar: poscinta.com)

..

Dia perempuanku. Pengeluh. Pemarah. Cantiknya pualam bukan kepalang. Aku rasa, aku boleh membuat banyak pengecualian. Sedari awal sepertinya aku sudah menetapkan.

Dia perempuanku. Setiap kali dia sudah singgah di dapur, maka ibuku tak akan pernah merasa bahwa dia adalah semacam kesalahan kelak dalam kehidupan-kehidupan mendatang. Biarpun pemarah. Biarpun pengeluh. Sentuhan racik tangannya sudah membuat perutku kepayang. Aku rasa, aku sangat boleh membuat lebih dari sekedar banyak pengecualian.

Itulah dia, perempuanku. Esok pagi akan aku jadikan ratu. Meski semalaman ini aku sempat ragu, sekuat apa ketebalan benteng telinga dan hatiku meredam semua keluh kesah amarahnya yang tampak semakin tak mau diredam bahkan oleh waktu.

“Kau sudah memastikan tingkat keharumanku kamarku? Ah, kamar kita maksudku. Kau pasti sudah jauh-jauh hari tahu kalau aku ini anti bau.”

“Harus segar! Tolonglah kau ingatkan pada adikmu untuk menyampaikan pada para pengurus acara. Mawar-mawar putih yang dihadirkan besok pagi harus segar! Aku tak mau tahu.”

“Siapa itu? Kenapa aku tidak boleh ikut tidak boleh tahu? Kau mau selingkuh ya dari aku? Ayo jawab saja. Kalau iya, biar aku punya waktu cari gantimu. Banyak yang sudah menungguku.”

 “Aduuuh.. kenapa harus di saat-saat begini sih maag-ku kambuh? Kau. Apa kau tak bisa minta dokter pribadimu membuatkan resep ampuh. Bagaimana mungkin kecantikanku harus terlindas pucat lesu? Aib buatku!”

“Lihat! Lihat sini dulu! Ini lihat ukuran pinggangku! Apa kau tak tahu sudah melebar begitu?”

“Iniiii! Ini lihaaat.. lihaaat.. aku akan dapat malu! Bagaimana bisa jerawat-jerawat mengacau di wajah mulusku?! Aku malu!”

Ada kalanya aku ingin meniadakan kaca. Itu belum termasuk segala macam sengsara yang sudah dia siapkan dalam daftar ketidaksukaannya. Terbersit lagi untuk mengisolasi ruang kehidupanku kemudian, biar tak perlu muncul curiga cemburu hingga berakibat perpisahan. Aku pikir, aku masih sanggup menahan dengan banyak pengecualian. Bukankah itu ujianku? Untuk sesuatu yang bernama cinta dan aku percaya? Lengkap dengan sekian jumlah penerimaan sebagai dampak dari pengecualian-pengecualian yang sudah aku patenkan untuknya? Ya. Untuknya yang cuma satu itu.

Dia perempuanku. Pencuriga. Pemarah. Pencemburu. Langsingnya masih saja seperti tak berujung. Bahkan rambut ikalnya terus menerus ditindas lurus biar mengesankan terurus.

Dia perempuanku. Penyihir bagi para keponakan. Tak pernah dinantikan kecuali dia datang bawa sekian banyak hidangan dan mainan. Ibuku tak terima jika ayahku merasa berkeberatan. Biarpun pemarah. Biarpun pengeluh. Biarpun penyihir. Biar pencemburu. Ibu bilang, “Bawa-bawa dia aku tak akan kena malu!”. Maka bisa apa aku? Pengecualian-pengecualian seperti hanya akan bertahta abadi dalam kehidupanku.

Dan inilah dia, perempuanku. Berdiri melayangkan pandang ke sana-sini tak mau ada satu cacat terlewat tanpa jadi abu. Kujejaki gurat wajahnya satu mili per satu. Kuhayati setiap gerak-gerik tubuhnya tanpa berusaha terganggu dengan apa pun yang dia ucapkan seakan tanpa kenal ragu. Esok pagi dia akan resmi menjadi ratu dikerajaanku. Detik mendekat sampai-sampai aku cemas salah pacu. Sudah benarkah aku menjadikan dia bagian sisa hidupku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s