Bumi dan Nirwana

sekali lagi. di hari ini. Batari Ibu mengajakku berjalan-jalan. habis sudah setiap sudut yang kami miliki dalam mimpi. bergandengan tangan. lebih mesra dari hari-hari kemarin dan detik-detik sebelum. tak ada kelokan yang tak menyaksikan rengkuh halusnya pada bahuku. tak ada jurang yang tak kecewa pasal dia yang terus melindungiku. hela demi hela nafasnya jelas aku membaca resah bukan ragu. entah akan apa, entah tentang siapa. Batari Ibu terus kembali datang dan mengajakku untuk menguasai lebih.. lebih.. dan lebih lagi makna lebih dari biasa. sampai-sampai kebandelanku menyerah pada sebuah kenyataan yang bahkan aku tak tahu apa. terbersit melawan pun tidak. hatiku berkata ini sudah bukan waktunya aku bermain-main tanpa bermahkota kesadaran dan lupa ingatan akan tanggung jawabku yang mampu menelan Bintang Hitam.

sekali lagi. Sore menjadi saksi. Batari Ibu memaparkan kisah demi kisah yang sebelumnya terkurung jeruji tabu. sekejapan kekanakanku runtuh, senyumku rubuh, airmataku mengapung di Biru Langit terganti Lembayung yang urung. Penjara Takut bahkan tak lebih seram dari sebentuk rasa yang tiba-tiba menusuk, memborbardir tulang-tulangku. cengkeram demi cengkeram Batari Ibu yang tak menyakiti jelas aku menangkap cemas melampaui batas. hening kami menguapkan Kunang-kunang. Matahari berkesadaran menyingkirkan Awan-awan bersamaan arah jalan pulang. aku tak tahu bagaimana menjawabnya ketika Batari Ibu melayangkan bentukan-bentukan Aksara berlengkapi tanda baca, “jika kemudian Nirwana kehilangan Warna. jika kemudian Bumi mengusir keseluruhan Warna. masihkah mereka bernama sama? Bumi dan Nirwana?

sekali lagi. Waktu memulangkan segalanya dengan tepat. Batari Ibu memelukku erat-erat dalam janji akan kembali nanti, esok, dan lusa-lusa ke depan. aku masih tak tahu bagaimana lepas dari ketiadaan jawab. aku malah melahirkan ribuan Kunang-kunang bias tak pekat. Batari Ibu terus memelukku erat. airmatanya berderai membanjiri cemas hingga tercekat. hatiku berkata ini sudah bukan waktunya aku bermain-main tanpa bermahkota kesadaran dan lupa ingatan akan tanggung jawabku yang bahkan mampu menelan Semesta Hitam. tapi bagaimana jika kemudian Nirwana kehilangan Warna? bagaimana jika Bumi malah mengusir keseluruhan Warna? masihkah mereka akan bernama sama? Bumi dan Nirwana?

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s