Pagi bisik-bisik pada Jam Dinding yang tik-tik-tik. tetap terdengar. meski tak ingin, tetap terdengar. selintas aku ingin saja dibutakan dari sekian hal yang kadang aku tak paham bagaimana bisa aku seketika paham. selintas berikutnya aku ingin saja ditulikan dari sekian dera yang kadang aku masih tak paham bagaimana bisa aku seketika mendengarnya. sayangnya tidak di detik berikutnya, seketika juga aku paham apa yang harus diterima tanpa sibuk-sibuk terus menghadangnya dengan penolakan-penolakan sempurna. dan itulah di detik berikutnya aku diam, kembali menikmati semata-mata keindahan meski perih dan mengerikan rasanya.

Pagi menarik selimut agak menaik di antara lekuk gigilku. terasa ia meraba dahi dan berakhir dengan kecupan lembut. “cepat sembuh, Angin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s