pesta tanpa lampu-lampu

Batari Ibu menggamit lenganku dengan teduh yang enggan disanggah tak turut. tanpa kata-kata dia membuatku beriringan lalu sekejap merengkuh.

“aku tahu kau tak pernah suka pesta, Nona. tapi yang satu ini.. berbeda..”

aku mengernyit. Ibu mengerling. segalanya tampak serba tak patut, bahkan dia tak menitahkan aku pantas berbusana sekedar bergulir.

“jangan pikirkan apa-apa. tak perlu merisaukan sesiapa. dirimu.. itu cukup..”

sekedipan berikutnya Mantra-mantra berputaran. Batari Ibu terlingkupi. aku tertutupi. Pirus musnah. tak ada wewarnaan tersisa. gelap tersingkap tak juga sampai di ujung Kegelapan itu sendiri. selangkah tapi aku ragu. apa yang dipikirkan Ibu?

“sssh.. percaya padaku.. ini bukan ketakutanmu..”

tak ada aku yang biasa lepas dari Ibu. sekedar melepaskan sejari saja aku tak ingin mau. mantra-mantra beralih buih dan ketiadaan memaksaku menutup mata melawan rasa takut. aku takut. aku ta-kut. aku t-a-k-u-t. kenapa aku harus menurut?

“kau takut?”

“aku tak nyaman, Ibu.”

“sampai-sampai telingamu juga tertutup?”

“..”

“mereka sedang menyanyikan lagu buatmu. kau takut?”

jika seisi Dunia mengharapkan aku bersedia membuka mata, rasanya percuma. aku tak mau. tak mau! lagu? lagu apa yang buatku? Serenade Buih? sejauh mana mengada-adanya Ibuku?

sedetik tak terpinta, arus hangat mengalun padu. sedetik berikutnya, tak ada lagi terasa diri Ibu. berdetik-detik selanjutnya aku menjerit dalam kebisuanku mencari-cari, “Ibuuu!”. entah di detik berapa kemudian tepatnya, pusaran lembut hangat meniadakan keraguanku, menghampakan kebutuhanku bergantung pada Batari Ibu, menghambakan kenikmatan yang bahkan baru aku tahu.

“jangan berprasangka buruk pada Kegelapan, Anakku. coba bukalah kedua matamu.”

aku mencari. mata biar begini. aku mencari. Batari Ibu jauh tidak dariku?

“jangan berprasangka buruk pada Kegelapan begitu. ayo, buka matamu?”

“..”

“kau tak akan tersakiti, Anakku. dirimu sendiri telah membangun Selubung Pemandu.”

satu. dua. inginnya aku melewatkan tiga biar tak terpaksa membuka mata. satu. dua. aku harus melihat dulu ke arah mana? satu. dua. ti-g-a.. t-i-g-a.. kenapa aku harus menunggu selama itu untuk membuka mata? tercekat tak lagi derita. Selubung Pemandu. mana Selubung Pemandu-ku?

“sudah aku bilang kau tak perlu takut bukan? jangan berprasangka buruk pada Kegelapan.”

“a.. a.. ku..”

“mereka yang tak berwarna ini menjadi berharga bersamamu. memberanikan diri datang kepadaku. menghapus malu untuk memintamu dibawa turut turun. bukan berarti mereka tak paham ketakutanmu.”

“ini di Kegelapan, Ibu?”

“ini di Kegelapan, Sayangku.”

“a.. a.. ku..”

“jangan lagi berprasangka buruk pada Kegelapan. indahnya mereka bahkan lebih sering tanpa beban tak meminta balasan. mereka memang diam. mereka memang tak banyak meminta diperhatikan. tapi mereka ada. tapi mereka bahagia. bila..”

“bila aku tak menutup mata dan berpaling dari Kegelapan itu sendiri?”

“begitulah. kau yang paling mengerti.”

Batari Ibu kembali mendekat dan menggamit lenganku. lembutnya memadu kelembutan gemerlap Kegelapan. senyumnya cemerlang di tengah pesta tanpa lampu-lampu penuh Ikan-ikan. aku tak punya banyak kata-kata. tak ingin punya banyak kata-kata. Kegelapan datang. Kegelapan meminta. Kegelapan menyembuhkan prasangka dan takut dengan dirinya. bagaimana terima kasih bisa kutunda?

pesta tanpa lampu-lampu (foto oleh Kuke)
pesta tanpa lampu-lampu (foto oleh Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s