Partikel: “Jangan sombong jadi manusia.”

dibutuhkan waktu sekitar 1,5 – 2 jam untuk menuntaskan Supernova 2.3 Partikel karya Dee (Dewi Lestari). keinginan membelinya pun bukan jauh-jauh hari karena kehadirannya sama sekali tidak dianggarkan atas nama cita-cita kecil lain yang sudah menanti. sayangnya, susah sekali menampik. aku sudah mengentaskan Ksatria, Putri & Bintang Jatuh. aku sudah kehilangan Akar edisi pertama yang langka karena tidak dikembalikan peminjam terakhirnya. Elektra di Petir sudah membuatku penasaran akan beberapa hal yang mestinya bisa aku temukan di Bandung. jadilah acara membeli-buku-referensi-serius di Gramedia Merdeka berbuntut lain. Partikel masuk kantung plastik. aku merogoh 79000 Rupiah ekstra yang mestinya bisa jadi uang jajan beberapa hari.

berbekal dua Teh Kotak (50% ekstra gratis) dingin dan berstatus online-tapi-offline di Facebook, proses membaca dimulai. kecepatannya agak menghampiri kecepatan skimming. bagaimana pun aku masih punya jatah satu buku lagi untuk dihabiskan sampai batas pukul 7 Selasa pagi. lalu disinilah gunanya halaman Facebook tetap terbuka. aku tak mau melewatkan apa-apa yang membuatku berpikir sekaligus dijerat rasa suka. aku membuat status ber-hashtag #Partikel dan menghujani komentar-komentar sebagai catatannya.

7 >> Mungkin dengan pulang ke rumah, kamu malah menemukan sesuatu.

57 >> Dunia dewa dan dunia manusia memang tak mungkin bersatu. Salah seorang harus rela menyeberang.

62 >> Seluruh alam ini senantiasa bicara kepada kita, Zarah. Masalahnya, kita mau dengar atau tidak.

62 >> Alam dan kita adalah satu, Zarah. Ketika kita percaya kepada alam, maka alam akan melindungi kita. Alam akan berbicara kepada kita dengan bahasa tertentu. Bahasa rasa dan bahasa tanda.

65 >> Dan satu-satunya cara agar selamat keluar dari sini adalah meniru kepercayaan sang musang kepada hutan, membuat tempat gulita dan asing ini menjadi rumah hangat dan aman.

75 >> Yang paling sulit dari semua itu adalah percaya kepada dirimu sendiri, percaya bahwa kamu tidak gila.

105 >> Benteng-benteng batu. Mereka yang tidak bisa dan tidak mau melihat perbedaan.

160 >> Sekarang ini, sulit mencari orang yang benar-benar mau mendengar.

160 >> Kalau lawan bicaramu mendengar dengan sepenuh hati, beban pikiranmu menjadi ringan. Kalau kamu malah tambah ruwet, meski yang mendengarkanmu tadi seolah serius mendengar, berarti dia tidak benar-benar hadir untukmu.

162 >> Jika seseorang menguasai pencahayaan, ia akan menguasai fotografi. *paporit ini.. paporit..*

194 >> Alam tidak pernah berbasa-basi. Dengan jujur dan tanpa kompromi, alam menunjukkan bahwa terkadang kita harus mati demi memperjuangkan tujuan yang lebih besar.

213 >> Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam. Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita.

‎227 >> Manusia ibarat anak yang lupa keluarga dan sanak-saudara. Ia menyangka dirinya yatim piatu di Bumi ini. Ia lupa telah bersepupu dengan orangutan, simpanse, gorila. Ia lupa bersaudara jauh dengan pohon.

280 >> Tak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tak bisa ditangiskan.

309 >> Kamera cuma penunjang. You have special eyes. Kamu bisa melihat apa yang tidak orang lihat, tidak Canon, tidak Nikon, Leica, Hasselblaad, atau apa pun, yang bisa menghadirkan mata seperti itu. Hanya alam.

‎462 >> Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.

467 >> Penyakit bukan sekedar gangguan. Tapi kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan.

tapi entah kenapa, sejak halaman 76 hingga menjelang akhir di halaman 451 dan ketika benar-benar berakhir 486, cuma satu yang paling mengiang dari Partikel. hingga akhir cuma satu buatku. JANGAN SOMBONG JADI MANUSIA. kata-kata yang diucapkan Firas ketika mulai membangkitkan kemampuan mata Zarah berbantukan Kamera Polaroid.

selanjutnya yang terasa hanyalah seperti ada bagian-bagian dari pemikiranku, dari bagian halusku, (mungkin) dari seluruh kegenapan-ganjil-ku yang terlengkapi, bolong-bolong yang terisi. belum utuh. belum seluruhnya utuh. tapi sudah sanggup membuatku membalikkan pertanyaan ke diri sendiri, “bisa begitu ya?” ~_~

begitulah Partikel. tidak membangunkan kegairahan seperti 1 memang. untunglah pula tak sedatar 2.1. bukannya juga memancing kepenasaran eksplorasi sebagaimana 2.2. ianya mengisi bolong-bolong bukan seperti sekedar menambal. aku sudah mengalami ketiga buku sebelumnya. dalam kehidupanku sendiri ada juga sekian hal lain yang sudah singgah. belum lagi pengalaman belajar memotret dan temuan-temuan bersamanya yang membuat keindahan lebih dari cukup untuk memenuhi kepuasan definisi. aku seperti menjelang digenapi utuh, menjelang sampai.

Supernova 2.3 Partikel (foto oleh Kuke)
Supernova 2.3 Partikel (foto oleh Kuke)
.

sekarang sudah masuk waktunya harus mengendap sebentar. tidur. bersiap serius kemudian ~.~

selamat tidur Semesta dan entah siapa saja kau di sana wahai Penyampai Pesan Pengisi Bolong-bolong ^_^v

Advertisements

2 thoughts on “Partikel: “Jangan sombong jadi manusia.””

  1. Cepet banget bacanya! Aku belum baca bukunya jadi belum bisa komentar. Kata temanku ada beberapa deskripsi yang terlalu banyak (yang jika dihilangkan menjadi tidak masalah).

    1. emm.. memang ada yang sedikit ‘berlebih’, tapi bisa dimaklumi juga sih 🙂 paling tidak.. buatku.. (buatku loh ya) tidak semengecewakan Madre waktu itu.. heuheuheu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s