dekap Biru Pagi

aku membaui jalan menuju Rumah. godaan semburat Jingga yang berasal dari Matahari kala terbit sedikit tertampik kerinduan tanpa titik-titik. aku mengakrabi ramah gelombang Selat. tak ada hela Angin yang tertahan dua lengan bersedekap. aku menemukan jalan pulang menuju Rumah. dalam segenap Biru rupa-rupa wajah, aku mampu melihat Batari Ibu malah menitahkan masa tunda. ah! kenapa?

Jingga bersegera memanggil para Awan bersaudara. meninggalkan ujungan Jawa biar Raung sekeluarga bersih Biru saja di sana. sementara Gerbang Bali alih makin warna-warni tak kenal sahaja. tak bisa dihindari mata juga rasa perih sudah. Rumah Ujung Cakrawala. segala kembali harus ditunda.Poseidon yang menghiba tak kena di hati inangnya. aku harus bagaimana?

dekap Biru Pagi menguat dengan alasan. biar perih kenal waktu tanda. biar perih tak menelan menggulungku semena-mena. biar cuma senyumlah saja yang tertangkap Rumahku di Ujung Cakrawala berbelok ke sudut sana. biar tumpukan rindu-rindu tak menggelinding percuma terbawa Angin Laut yang nyata. dan segala naluri Batari Ibu yang telah siap menyambut berlimpah kenikmatan aroma dicukupkan seadanya saja.

aku membaui jalan menuju Rumah. aku tak mau memberi kesempatan pada kecewa. selambai dua lambai dan nyanyian kuhaturkan bergema. kita semua kembali saling menantikan masa-masa bersama dengan bersama adanya. seperti biasa. seperti sebelumnya.

dekap Biru Pagi (foto oleh Gelar TK)
dekap Biru Pagi (foto oleh Gelar TK)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s