Angin Pemimpi

aku Pemimpi. itu tak perlu jadi bahan perbantahan lagi. bahkan antara sesama Semut meski satu dari mereka Hitam dan satunya lagi Merah Hati. sudah bukan rahasia lagi. seisi Semesta seperti sudah lebih dari sekedar tahu dan memahami dengan caranya sendiri-sendiri.

aku Pemimpi. sepertinya Pagi – Siang – Sore – Malam adalah sebagian dari sekumpulan Saksi. entah apakah mereka sudah tergerus bingung atau masih bisa senyum mengerling. entah bagaimana cara mereka menghabiskan satu per satu kesukarelaan menyaksikan aku yang terus melakuan hal yang sama berulang kali.

Ayah-Ibuku tahu aku Pemimpi. Adik sematawayangku tahu aku Pemimpi. Guru-guruku paham aku ini Pemimpi. Murid-muridku ada kalanya terikut seru mengikuti aku si Pemimpi. Kekasihku tak menghentikan aku yang Pemimpi. Tuhan masih membiarkan aku terus menjadi Pemimpi. Semesta tak urung kasak-kusuk agar aku tak sekedar jadi Pemimpi. sungguh-sungguh kesendirian sebagai Pemimpi tak lagi terasa macam sendiri.

aku Pemimpi. belum tahu sampai kapan kesemuanya akan terus rela menyaksikan aku yang suka mencoret-coret Lahan Impianku sebisanya tanpa jeda berarti. aku Pemimpi. aku ini Angin Pemimpi. padahal tak urung impian-impianku sesederhana berbatang Rumput mengering merindukan Hujan di tiap detik Kemarau hening.

Pagi. mengisi Lahan Impian. (foto oleh Gelar TK)
Pagi. mengisi Lahan Impian. (foto oleh Gelar TK)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s