tertikam Belati Petir

apa kau masih di sana, Lavanya? aku membutuhkan balutan selendangmu segera. aku perih. semakin tak bisa menahan darah yang terus mengalir dari tikaman-tikaman Belati Petir. entahlah kenapa sekejap panasku berubah dingin. tak paham juga kenapa lajuku melemah dan lihatanku terus mangkir. bukankah perjalanan kita masih jauh, Lavanya? bagaimana ini jika aku hampir mati?

pantaskah jika kemudian kita mempertanyakan keiklasan Tuhan meridhai, Lavanya? perjalanan ini bukanlah pelarian. apa yang dituju pun bukanlah keharaman yang mendadak dihalalkan. tapi bagaimana, Lavanya? aku tertikam Belati Petir yang paling tak kuasa ditolak Maut. kau semakin mengabut, sementara ia kian jelas mengulurkan tangannya yang halus besar padaku saja. bukankah impian kita masih jauh, Lavanya? bagaimana ini jika aku kian dekat mati?

*theme-song: E.S. Posthumus – Lavanya **Lavanya = beauty, loveliness (Sanskrit)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s