10 Hari Bersamamu: Open Your Mind!

Sudah lama sekali. Tahun lalu. Tetapi bagian ini akan sulit untuk dilupakan bahkan dibuang, disertakan bersama para Angin yang rajin bergerak ke sana-sini, lalu tertinggal sebagai partikel mati. Memang sudah tahun lalu. Sudah lama. But, just open your mind! Seperti yang seorang Biksu Muda katakan dalam salah satu episode perjalanan 10 hari yang sangat berkesan. Karena dengan keterbukaan maka keluasan terjamah, yang tak terlihat atau tak jelas terlihat akan utuh di hadapan mata.

03.01.2011 :: Phnom Penh – Ho Chi Minh City

Pagi dimulai dengan pergi ke Toko Roti di ujung jalan. Tak ada waktu untuk duduk sarapan, jadi lebih baik cari praktis.  Kami bersepuluh akan menuju Ho Chi Minh dengan bus hari ini. Diperkirakan tiba siang hari sebab keberangkatan tertulis pukul 6.45 waktu setempat dan butuh sekitar 6 jam perjalanan. Rasanya sudah tak sabar melintasi perbatasan. Bisa jadi aku mulai menikmati sensasi menerima cap di halaman passport dan mengamati ekspresi para penjaga di sana. Belum lagi jika ada kejadian tak terduga. Tapi tenang, aku tak berharap sedikit pun muncul kejadian buruk, karena itu bukan hal bijak.

Kembali ke Psar Thmei, bus Sorya akan bertolak dari sana. Aku tak terlalu lama memperhatikan sekitar, mungkin karena terlalu ramai. Bhora sudah siap mengkaca-kacakan matanya karena Phnom Penh adalah dampingan terakhir. Ia tak mau ikut (karena tak punya passport). Yang lain sedang sibuk mengamankan barang-barang bawaan masing-masing di bagasi. Aku memilih langsung naik ke bus, duduk di dekat jendela, dan tertemui seorang Biksu Muda duduk sederet di ujung jendela lainnya. Ia sempat memperhatikanku. Matanya tak liar, hanya agak semi-liar untuk seorang Biksu. Belakangan aku tahu umurnya baru dua puluh. Pantas saja. Harusnya aku tak jengah, tapi entah kenapa malah agak jengah. Cukup lama. Ia  memperhatikanku tanpa senyum, tanpa sapa, tapi itu bukan tatapan hambar. Setiap aku berusaha memergokinya dengan balas melihat, ia langsung meluruskan pandang. Mas Arya yang kemudian duduk bersebelahan dengannya.

Biksu muda ini keren juga. Maksudku, secara fisik, ia memiliki postur yang bagus. Ia tak sungkan berbincang dengan Mas Arya, bahasa Inggrisnya bagus. Kalau sedang enggan, ia lebih suka melihat ke luar jendela, mengabadikan apa-apa yang disukanya dengan kamera ponsel. Ia juga membawa laptop, tapi tak dibuka sedikit pun, paling hanya dilihat sebentar, memastikan masih ada ditempatnya. Selebihnya? Biksu Muda itu memilih tertidur, terbangun untuk minum dan menyeka wajahnya dengan tissue basah yang disediakan di bus.

Sampai tiba waktunya ketika Angelina Jolie sukarela tampil di layar televisi yang ada di bus, dengan senang hati Mas Arya nyeletuk ke arah si Biksu Muda, “That’s.. She’s my girlfriend.. you know..”

Ha ha ha.. in your dreams.. ya..”, begitu si Biksu menyahut dengan ekspresi menimpali lugas dan cerdas.

Mbak Vit dan aku sontak tertawa puas mendengarnya. Nah loh, sahutan pendek yang mengena. Tapi, setali tiga uanglah kedua lelaki yang duduk berdampingan itu. ya Mas Arya dan si Biksu. Sepasang mata mereka enggan lepas dari setiap aksi Lara Croft. Wajar sih. Wajar saja. Biksu kan manusia juga, biarkan sajalah. Untuk menghindari keduniawian bukan berarti sama sekali menutup mata akan keduniawian itu sendiri kan?

Dan cerita belum terhenti sampai di situ. Si Biksu Muda terpaksa mau tak mau mendengarkan keluhan Mas Arya ketika pihak Sorya mengumumkan bahwa bus akan singgah dulu ke Bandara, baru kemudian berhenti di pool-nya yang tak jauh dari Pham Ngu Lao. Bagi Mas Arya, hal itu semacam buang-buang waktu, harus berputar dulu.

Why don’t you just open your mind? Take them to the airport will make you know where the airport is without paying more. You’ll see other side of Saigon, too. Pretend that take-them-to-the-airport first as a part of the big welcome party from Saigon.. not bad I think.”

Terdiam. Speechless. Itulah reaksi spontan Mas Arya selama beberapa detik. Tidak bisa tidak, hal itu benar. Terlebih lagi kami memang sedang tidak bekejaran dengan waktu. Jadi apa yang salah dengan ikut bus mengantar beberapa penumpang ke Bandara terlebih dulu? Tak ada.

Biksu Muda itu semakin lama semakin menarik menurutku. Sayangnya bus kemudian sudah melalui Cho Ben Thanh, melaju dalam batas kecepatan yang sudah ditetapkan. Entah kenapa terasa mendadak sudah tiba saja di salah satu ruas Pham Ngu Lao. Kami sudah harus turun untuk melanjutkan berjalan kaki ke penginapan dan membayar rasa lapar ini dengan seporsi Pho Bo yang sudah diiming-imingkan sejak awal rasa ingin tahu akan Vietnam. Biksu Muda dan kami berlainan jalan.

Ada satu yang entah kemudian akan disesalkan atau sudah saja dianggap keberkahan. Aku dan Biksu Muda itu sempat bersitatap. Ini perpisahan. Kami saling melemparkan senyuman. Mungkin juga sinyal-sinyal tentang kesetujuan akan apa yang ia nyatakan, “why don’t you just open your mind?

Advertisements

2 thoughts on “10 Hari Bersamamu: Open Your Mind!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s