percakapan pagi dengan Tuhan

terjaga. sudah terang. Tuhan masih memelukku usai Gunung menghantar pada tidur Laut yang tenang. aku lirih bertanya, “kapan aku boleh mulai kembali?”. Tuhan menjawab, “sst, sabarlah. nikmati masa mengendapmu ya. ayo pejamkan mata. 27 menit lagi saja.”

aku

“maafkan aku, Tuhan. semua menjadi tak terkendali, berlebihan, sampai aku sendiri jadi muak.”

Tuhan

‎”bukan kesalahanmu, mungil. kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. dampak dari semua itu biar jadi pengawasan-Ku. kau istirahat saja dulu. Aku sengaja menyegel sementara keajaibanmu dari-Ku.”

aku

“aku agak tersiksa.”

Tuhan

‎”itu karena selalu saja Ku-biarkan energimu meluap berguna. tahan sebentar ya. Aku yakin kalau kau pasti mampu bertahan sambil terus tumbuh.”

aku

“apa setiap bertumbuh butuh mengendap?”

Tuhan

“apa kau berharap Aku akan membiarkan kau sekedar bertumbuh rapuh lalu terus patah setiap kali terhalang dan jatuh?

aku

‎”tidak. aku ingin tumbuh mantap. Kau selalu mengajariku membaca tanpa buruk sangka. tapi barusan aku tergelitik ingin bertanya.”

Tuhan

“kau anak baik, mungil. kau anak baik.”

aku

“apa aku masih boleh tidur lagi?”

Tuhan

“boleh. sampai jam tujuh. kau masih mau Kupeluk?”

aku

“mau. dingin sekali.”

Tuhan

“baiklah. sini. tenanglah. Aku tak jauh darimu.”

aku

“em, tapi barusan ada tok tok Mang Buryam, Tuhan. ditunda bobok laginya boleh?”

Tuhan

“hahaha. ya boleh. prosesmu butuh makan banyak. gih.”

‎*angin mengecup Tuhan*

“luv You..”

*Tuhan mengelus sayang*

“luv you, too..”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s