remah-remah bocah

aku belajar menyanyi pada Angin yang sering nakal menggoda, menggoyang pinggul para Dedaunan Pohon Jambu Nek Jalil, menendang mata kakiku agar goyah berpindah tempat di dahanan tapi tak sampai jatuh. lagu yang sering kami nyanyikan seringnya lebih mirip hembusan udara liar belaka. teman manusiaku bilang tak ada satu kata terlontar nyata. tapi para teman Semut Angkrang di ujung terapuh bilang harmonisasi kami begitu indah.

aku belajar mengalirkan apa yang dapat kuraih dengan mata dan hatiku pada Angin yang sekejap mampu berubah lembut penuh. di Batangan Pohon Belimbing Kakekku. di puing Pohon Mangga depan Rumah Hijau Kesayanganku. di rimbunan Bunga Melati warisan Nenekku. berdampingan Wijaya Kusuma mewangi di sepanjang malamku. Capung dan Jangkrik sibuk menjaga agar Tokek tak riuh berisik mengganggu. ya alirnya tinta penaku. ya terabas jauhnya pandangku.

aku belajar meramaikan kesepianku pada Angin yang terus menegaskan setiap pemahamanku bukanlah sekedar imajinasi. di sela lemparan-lemparan kata “aneh” dari orang-orang sekelilingku. di empuknya rerumputan halaman rumah Kakekku. di bawah Langit yang kadang Biru, sesekali Putih Abu, sisanya Gelap membisu. lalu memuncak tepat ketika Purnama sebesar gedung muncul dihadapanku. aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s