Nona Pohon dan Pemuda Kabut

Itulah kami yang hidup di Jayagiri. Telah tergariskan sekian cerita yang pada akhirnya hanya mengurung kami di sini sejak bayi, hingga menua, lalu mati. Bergantian Matahari dan Bulan mewarnai juga menggelapi. Berkali Bintang turun aksi. Sesekali keliaran lainnya unjuk diri. Namun tak ada yang sememikat para Pemuda Kabut yang selalu saja menyertai Dewa Kabut turun ke rumah kami. Mereka yang tak pernah berwajah susah hati.

Para Pemuda Kabut tampan mempesona. Keseluruhannya sungguh pengasih dan penuh cinta. Tak ada yang pernah memaksa menyetubuhi kami para Nona Pohon. Tapi apa mau dikata ketika hasrat tak terelakkan di tiap-tiap awal sentuhan mereka pada kulit kami. Entahlah ini anugerah. Entahlah ini kutukan. Tak ada satu Lelaki Pohon pun berani angkat bicara jika kami para Nona Pohon kekasihnya secara terbuka bersetubuh dengan Pemuda Kabut.

Itulah kami yang hidup di Jayagiri. Meski berakar lalu punah di tempat yang sama, masih saja terkejut-kejut dengan turunan-turunan misteri. Bisa kau lihat kini, para Pemuda Kabut yang lekat dalam puluhan hingga ratusan menit, mencumbui Nona Pohon tanpa ada yang sakit hati.

(pemotret: Gelar Taufiq Kusumawardhana)
(pemotret: Gelar Taufiq Kusumawardhana)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s