enam jam di Negeri Kabut #3

#3. berpandu awan, langit, angin, dan matahari

Riang langkah kaki. Riang nyanyi hati. Jalanan yang sepi, meski sesekali dilalui rombongan mobil dan bus pariwisata, masih sempat kami perlakukan sebagai panggung tari. Langit sungguh cerah biru. Awan-awan mendung dan Kabut seperti sedang menghilang ditelan Bumi. Satu-satunya yang terpinta agar tidak cepat-cepat datang adalah rasa lelah. Jalan beraspal, menanjak, menurun, jalan tanah, rumput-rumput mulai tak basah. Ah, jadi ingat perbekalan air nih, masih cukup tidak ya?

“Hai, mungil.. hai..”

“Eh? Ada apa Matahari?”

“Mana topimu? Tidak kau pakai?”

Aku baru menyadari, itu pun karena Matahari. Aku tidak membawa si topi yang biasanya tak pernah absen dari perjalanan-perjalananku. Bukannya sengaja, namun lebih karena aku sudah lama tidak melihat si topi di sudut-sudut utama kamarku. Haduh, bukan hilang kan ya? Semoga jangan. Ia topi yang aku sayang!

“Wah, justru tidak aku bawa. He he.”

“Waduh. Aaa.. aku tidak terlalu panas kan? Aku hanya mencoba mengimbangi dingin.”

“Aaa.. tidak apa-apa. Aku masih kuat kok. Tenang saja.”

Aku membidik Matahari agar ia tak semakin cemas. Tentunya tanpa lupa memamerkan senyum yang katanya sih sangat ia suka.

“Hei.. hei.. apa tidak apa-apa menantang Matahari begitu?”, si Gunung menahan terpekik melihat polahku yang tegak diam berhenti dulu.

“Tidak apa-apa. Ini cantik kok.”

“Lensa kamera?”

“Aman.”, jawabku singkat mengerling mata.

Ah, andai saja si Gunung bisa melihat Matahari agak malu-malu, berusaha tak kaku bergaya. Tak beda halnya dengan dirinya yang juga seringkali bertingkah sama. Hi hi hi.

Aku bersegera mengejar ketertinggalanku dari si Gunung. Sekuat hati berusaha tak makin membuat Matahari kepikiran dengan kecerahan yang sudah ia rancang bersama dengan Langit dan Awan. Papan penunjuk arah yang tidak terlalu banyak benar-benar menggantikan fungsi oase meski ini bukan di Gurun Pasir. Setidaknya aku dan si Gunung tidaklah jadi sering-sering berhalusinasi, utamanya sejak melewati Bima sebagai candi terakhir. Bukannya apa, kami sempat menyangka reruntuhan pabrik jamur yang cukup luas sebagai peninggalan kuno yang tidak lebih tua dari candi!

Butir-butir keringat berlomba dengan Angin. Puluhan butir lahir, satu sapuan meniadakan. Puluhan butir melihat dunia, satu sapuan membuyarkan angan-angannya. Begitulah mereka berdua, Keringat dan Angin. Aku sampai nyaris tergelak, padahal si Gunung sedang berusaha agar aku menyimpan tenaga dan menormalkan kembali laju nafasku yang acak-acakan. Aaa.. aaa.. aah.. tapi aku membatalkan tergelak, Gunung juga serempak ragu melangkah. Kami sama-sama terhenti lalu kilat memutuskan untuk cepat-cepat saja melangkah. Cuma cepat melangkah, tidak sampai berlari adanya. Ternyata ada ketakutan yang sama singgah pada kami berdua. Gerbang pipa gas besar!!

Sesudahnya ya ketakutanku belum berakhir, berbanding terbalik dengan si Gunung yang sudah cerah lagi. Aku tak mau sedikit pun mendekati Sikidang. Biarlah aneh apa kata orang, aku tak mau mengambil resiko mengabaikan larangan hatiku saat itu. Untungnya Gunung mengerti, tapi tetap meminta kesediaanku membiarkannya pergi memotret kawah unik aktif tersebut. Baiklah, untuk memotret, sekedar memotret lalu segera kembali. Gunung bersegera berlari. Lalu untuk beberapa menit aku merasa ditarik ke dimensi waktu lainnya dimana semua berjalan seribu kali lebih lambat. Cepatlah, Gunung. Cepatlah!!

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s