enam jam di Negeri Kabut #2

#2. menyesap hening damai

Aroma embun habis-habisan menyergap indera penciumanku. Andai saja tak malu pada setiap bunga rumput, kupu-kupu, domba, dan kecerahan yang terbuka pagi ini, inginnya aku menghempas tubuh penat semalaman tertekuk di bus menikmati permadani rumput alami masih berbasah pagi.

Aku menahan diri. Aku menahan diri. Aku menahan sampai akhirnya tak lagi bisa tahan. Aku harus menyapa tiap titik air yang bergelayut menunggu sirna di rerumputan. Mereka semua sungguh cantik seperti berlian. Kalaupun terlalu banyak, biarlah aku menunjuk beberapa perwakilan. Setidaknya aku lakukan, harus aku lakukan. Kalau bukan dengan cara seperti itu, dengan apa lagi bahagia saling berbalas?

Ujung celana panjangku basah. Bagian bawah ranselku yang tersentuh rumput ya basah. Sepatuku jelas basah. B-a-s-a-h. Hanya si Ungu yang terjaga tetap kering. Namun teguk demi teguk aroma hening damai milik tiap titik air di rerumputan sepertinya memabukkan mereka hingga tak merasa perlu berkeberatan semakin dingin dan memberat karenanya.

Selirik pada si Gunung, ia malah menggamit lenganku lalu menunjuk ke arah bayangan kami di hamparan hijau. Ini bukan soal Matahari sudah makin meninggi. Ternyata ini soal Gunung dan Laut yang saling mengabadikan jejak bersama di sini, di Negeri Kabut.

Berikutnya kami memutuskan untuk saling berpencar menenggelamkan diri di arena bebatuan. Langkahku mulai liar. Pergerakan bola mataku sudah berlipat cepat dari biasa, berpacu dengan putaran imajinasi. Sebentar saja Mi Instan Rebus plus Telur sudah kehilangan taring penguasanya di dalam perut sana, padahal belum lebih dari 30 menit! Tapi itu bukan soal. Sama sekali bukan soal. Aku terus saja meliar sebagaimana adatku tiap bertemu bebatuan. Aku membiarkan jemariku merasakan permukaan demi permukaan. Aroma kembang dan bakaran dupa memberi salam setiap kali aku terhisap masuk, menaiki anak-anak tangga kecil, mendekati kegelapan yang tak terlalu aku suka. Tapi sekali lagi itu bukan soal. Udara bergerak bersih bebas sesudahnya. Kegelapan itu tak akan jadi soal. Belum lagi biru langit dan gugus pegunungan yang berkeliling mencoba berbaur sebagai latar penguat Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Semar, Setiaki. Bagaimana kemudian Gatotkaca dan juga Bima ya? Waaaa..

“Hai! Kenapa itu senyum-senyum sendiri terus? Bahagia ya?”

Ah? Sudah mulai begitu? Aku? Hahaha. Dengan penuh kesadaran aku menjawab pertanyaan berjarak 100 meter dari si Gunung itu dengan anggukan dan senyum lepas selepas-lepasnya. Aku bahagia! Berlipat-lipat ganda, aku b-a-h-a-g-i-a.

O iya, tadinya aku dan si Gunung bahkan bersikeras ingin menemukan beberapa telaga di sekitaran para candi. Anehnya kami bagai tersesat di ladang basah terbuka. Hei, di mana gerangan mereka yang tertera dalam peta? Buku panduan pendukung dan kompas dikeluarkan. Setiaki menjadi saksi kami yang kebingungan. Terik makin bersikeras. Satu dua teguk air ambil peran. Kepanasan. Dalam selimut dingin ini aku merasa makin kepanasan.

“Kita ke tempat yang lebih tinggi saja. Mungkin nanti akan terlihat?”

“Heem.. ya.. sepertinya itu lebih baik. Ayo lanjut saja kalau begitu.”

Tak lagi memilih setapak basah, kami mengikuti alurnya jalan batu buatan sebagai cara teraman untuk sampai di pemberhentian berikutnya sekaligus menemukan tempat yang lebih tinggi. Aku dan si Gunung masih penasaran akan telaga-telaga dalam peta. Mereka sebenarnya ada di mana?

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s