enam jam di Negeri Kabut #1

#1. kedatangan

Aku menamainya Negeri Kabut. Setiap cerita dari mereka yang telah berhasil mencapainya, setiap lihatan yang wara-wiri di berbagai media, kawasan itu seperti sangat jarang kenal cerah panjang. Entah apakah Matahari akan sempat mengeluh. Pastinya aku tak kurang keyakinan bahwa dalam Negeri kabut itu ada damai dan bahagia.

Ini bukan perjalanan panjang di atas roda membelah daratan yang pertama. Tapi ternyata masih saja aku dikurung debar-debar menjurus kegairahan sebagaimana kali pertama aku terlibat dalam perjalanan demi perjalanan. Buatku, lengkungan Bulan Sabit sekitar pukul 3 dini hari sudah macam senyuman yang menyambut menjelang ujung perjalanan ke Timur ini. Wah, apa Bandung akan keberatan ya? Iya, sempat terpikir begitu olehku, karena aku dilepas pergi dengan Hujan. Em, tapi bisa juga bukan begitu, bisa jadi Hujan itu sebentuk restu. Lagipula Bandung tak perlu cemas, kan ada si Gunung menemaniku. Aman kan?

Tanpa terasa Langit pelan-pelan benderang. Sergapan dingin dini hari yang terbuka fajar sudah tidak lagi bisa dihirup dengan sekedar tenang tanpa perangkat penghangat badan. Kejutan awal yang diberikan Sindoro sepertinya menjadi satu-satunya pengganjal kedua mataku yang tadinya masih ingin tidur. Sementara si Gunung, jangan ditanya. Begitu kelegaan dan kebahagiaannya yang pertama memuncak dalam sergapan bayang Sindoro di biru gelap pagi, dengan manisnya ia tertidur.

Aku merasa bekejaran dengan para pengawal gerbang Negeri Kabut. Namun di kali berikutnya aku seperti hanya sedang bekejaran dengan waktu yang terus menarik Matahari keluar melintasi batas yang ditetapkan sebagai ambang keindahan. Entahlah. Aku tersengal. Aku benar-benar tersengal. Sesadar-sadarnya aku menapaki ketersengalan yang semestinya menjadi satu-satunya hak mesin bus kecil ini melintasi tanjakan yang belum kupaham di mana ujungnya. Kaki-kakiku ingin segera melompat turun. Kedua mataku meliar di segala penjuru. Si Ungu terbiarkan nyala tanpa punya ketertarikan untuk protes. Jiwa anginku merebak mendapati Langit terkuak biru. Hei, apa sungguh ini Negeri Kabut itu? Mengapa keseluruhan kabutnya meretas jadi senyum? Kenapa juga para pengawal gerbang Negeri Kabut mendadak berhenti, tegak di tempat tanpa lupa melambaikan tangan. “Selamat datang!”, teriak mereka.

Sekedip aku mengubah haluan pandang menjadi depan, sudah hilang jejak kilatan-kilatan mata curiga berganti kesejukan titah bersuka cita. Ada apa ini? Apa sungguh inilah Negeri Kabut yang sibuk mengisi lintasan ingatanku sejak mulanya dulu? Kenapa kecerahan yang menyertai perjalananku? Argh, si Gunung masih saja tertidur pulas!!

“Kenapa kau tampak bingung seperti itu, mungil?? Apa sambutan hangat ini malah menyakitimu??

“Negeri Kabut ini jauh dari dugaanku, Matahari.”

“Kau tak mengharapkan aku sejelas ini??”

“Aku sudah membayangkan bisa menikmatimu tanpa perlu memicingkan mata kesilauan.”

“Dan kau akan lebih bahagia dalam kurungan para Kabut??”

“..”

“Setiap yang datang berkunjung justru mendambakan kecerahan macam ini, mungil.”

“..”

“Apa kau pun tak peduli jika ini hari pertamaku kembali muncul sempurna sesudah Hujan pun tak habis pikir kenapa susah sekali dia untuk berhenti?”

“..”

“Apa kau tak ingin menyambut senyumku di atas Awan begini, mungil?”

“Bukan begitu..”

“..”

“Jangan tersinggung, Matahari.”

“Senyumlah kalau begitu.”

“Aaa..”

“Kau sudah tiba di sini. Semua kami sudah saling menerima kabar sejak semalam pasal kau datang ini hari. Semua sudah siap mengambil tempat terbaik agar bisa kau abadikan dengan si Ungu, mungil.”

“Benarkah?”

“Apa ada gunanya aku mendustaimu sepagi ini?”

“..”

“Segalanya terbuka untuk mu sepagian ini, mungil. Berbahagialah dengan cara kesukaanmu. Kami turut.”


*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s