hutan purnama

ketika purnama menelisik dari setiap celah yang terlewatkan pinus hingga rumput, adakah hutan menggeliat penuh gairah? atau sekedar diam tak berkehendak apa? sungguhkah hutan kuasa menampik kecantikan purnama dan bara yang tersimpan dalam sejuk tiap-tiap larik sinar keemasannya? 🙂 aku belum paham. aku mau bertanya. aku mencari sisi hutan terdalam, mencari degup jantungnya biar bisa kusarikan kejujuran, diam atau penuh sudah wadah renjananya.

ketika purnama merengkuh bahu hutan agar terbawa dalam pelukan, adakah hutan menampik tanpa alasan? atau membiarkan hingga angin mengantarkan irama penyerta cumbu rayu berkumandang raya? sungguhkah purnama kuasa menaklukkan hutan tanpa perlu merasa kesusahan? 🙂 aku tak punya keberanian berharap akan pertautan. aku belum paham cinta atau nafsukah yang purnama tawarkan. aku mencari sisi hutan terdalam, mencari degup jantungnya yang diincar purnama biar dapat kutangkap dari kejauhan itu purnama mau apa.

lagu. selembut-lembutnya lagu cinta yang mulai setetes jatuh lalu terburai dengan gubahan tak kenal mendua? nada. selapar-laparnya nada kegairahan membabi buta yang tak mau kenal “tunggu dulu” atau “sebentar saja”? apa. dalam pandang purnama, maka hutan apakah? siapa. dalam degup hutan, maka purnama siapakah?

ketika purnama datang pada hutan dan hutan tak bisa berlari menjauh. ketika hutan berpasrah menerima memandang dalam diam dan purnama tak tergesa pula melaju. pernahkah keduanya terpikir untuk saling jatuh cinta? 🙂 aku tak punya kemampuan untuk terlalu berani menduga-duga. aku tapi entah kenapa ingin keduanya terjebak di pusaran yang sama. saling sapa, senyum selanjutnya, berpagut hangat, hingga kenal “selamanya” yang pastilah begitu singkat.

ketika purnama menelisik dari setiap celah yang terlewatkan pinus hingga rumput. ketika bahu hutan direngkuh penuh sadar agar terbawa dalam pelukan purnama. ketika purnama datang pada hutan dan hutan dipenuhi kepasrahan menerima memandang dalam diam. hutan sepenuhnya purnama dalam “selamanya” yang  singkat. purnama seutuhnya menghamba dalam masa seadanya.

Full Moon Forest (Guy Carpenter)
Full Moon Forest (Guy Carpenter)

*bersama A Walk in The Forest (Brian Cain), imajinasi sudut-sudut purnama dari hutan terdalam, ingatan akan Air yang sedang ada didalamnya, ingatan akan Gunung yang tengah mengajari aku untuk sedikit demi sedikit memahaminya (meski cukup lama aku belum juga kunjung fasih)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s