dirimu Bintang, ternyata kau masih di situ

*alunan Satu Bintang di Langit Kelam – Rida Sita Dewi sepanjang perulangan*

aku paham kau akan sangat jengah jika ada rindu yang aku nyatakan tanpa perantara banyak kata pemanis. katamu, “apa itu begitu-begitu itu ah!”, dengan galak yang kadang semakin lama tak terasa memedaskan telinga. jangan tanya sejak kapan paham itu tiba. mungkin kita bahkan tak pernah sadar sudah berapa total detik yang ada dalam terlalu sedikit dekat dan terlalu banyak jauh jaraknya kita. aku tertegun. aku tak menduga. kau masih di situ. ternyata.. yaaa.. kau masih di situ 🙂

apa kabar ornamen bintang laut yang besar itu? apakah anggrek ungu dan temuan lukisan pemandangan white-christmas masih tersimpan rapi sebagaimana tempat pensil anyaman rotan yang langsung menarik perhatianku ketika pertama kali melihatnya keluar dari ranselmu? aku tak tahu 🙂 sebenarnyalah aku tak begitu tahu kenapa tiba-tiba mengingat semua itu. masih utuh atau sudah hancur berantakan pun sebenarnya aku tak terlalu peduli. tak ada yang melebihi ketakjuban dan bahagiaku setiap kali doa dan dukunganmu mengalir dan terus mengalir meski kau pun telah kenali aku yang sungguh keras kepala ini. aku tak menduga. kau masih di situ. ternyata.. ya memang benar.. kau masih di situ 🙂 entah di pasang atau surutku.

aku paham dalam pikirmu buat apalah semua ini aku tuliskan 🙂 tapi entah kenapa aku yakin kau pun tak akan menyalahkan bahkan membenciku hanya karena rangkaian kata-kata ini. sama seperti ketika aku terus ribut mengoceh, bercerita seakan tak memikirkan betapa berisiknya keseluruhanku ditelingamu. “kau ini.. cerewet sekali..” aku terima sama baiknya dengan “kau ke mana aja?” juga “kau mau ke mana lagi?”. aku sekejap merasa malu, tak punya banyak untuk kubagi denganmu selain impian, rencana, impian, perjalanan, impian, gambar tangkapan bahkan tulisan yang jangan-jangan sudah tamat pula kau baca tanpa aku pernah tahu. kau masih di situ. aku tak menduga. kau masih di situ. sejak awal dulu hingga kini. bersinar dalam diammu.

aku terlupa menghitung jumlah detik kita bersama berdekatan dan bersama berjauhan. aku tak mampu menghitung berapa kali aku membuatmu merasa seperti tertimpa rusuh atau malah penuh gelak jujur tak meninggalkan celotehku dalam tidur. aku tak tahu. entah kenapa aku tak mengingatnya, aku tak tahu. aku sendiri paham kau akan sama tak mengingat itu. karena ternyata kau masih ada di situ. aku pun masih menjadi aku yang tak kunjung dewasa katamu. jadi apa lagi? aku tak merasa kita perlu banyak definisi, seremoni, apalagi sampai mencetuskan revolusi 🙂 kita ya begini. ya sudah. kita ya begini.

sudah. entah sudah berapa putaran aku mendengarkan lagu yang sama. inginnya sambil menarikmu pergi ke tempat yang paling aku cintai tiap malam cerah tiba dan hingga debu bintang pun jelas kupandang. aku ingin mengajakmu ke surga-surga kecil temuanku. tapi ya aku paham kau tak akan dengan mudah mengangguk mau dan turuti irama langkahku. meski ya kau jelas-jelas masih di situ.

Bintang, terima kasih selalu ada buatku 🙂 Bapak, terima kasih ternyata masih ada di situ 🙂

sumber gambar: google image
sumber gambar: google image
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s