M’isolo E Vivo dan Aku Berada Didalamnya

Siapa yang sebenarnya penyendiri? Tuan Berretty (Sang Pemilik Villa) atau justru Schoemaker (Sang Arsitek)? Aku terlupa untuk mempermasalahkan hal itu, karena senyumnya sudah menyambut di depan pintu 🙂

Siapa, Kuk? Tuan Berretty yang terkenal flamboyan itu?

Charles Prosper Wolff Schoemaker [sumber foto: Google]
Charles Prosper Wolff Schoemaker (sumber foto: Google)

Tuan Berretty? Sepertinya bukan 🙂 karena wajah peranakan Italia – Indonesia (Jawa) itu semestinya tak terlihat seperti ini. Senyum ini tulus saja, tak bermaksud menggoda atau bertujuan apa. Ia hanya menyambut tanpa banyak bicara.

Hei, kenapa tiba-tiba kau punya pertanyaan “Siapa yang sebenarnya penyendiri, Kuk?”. Dengan reputasinya, Dominique Willem Berretty tampak tak terlalu suka hidup sendirian. Coba, sudah berapa kali ia menikah dan punya hubungan tak resmi lainnya?

Em? Ah, reputasi seperti itu kan tak menjamin bahwa kepribadian sesungguhnya si Tuan Berretty berbanding lurus. Siapa yang sebenar-benarnya mengetahui?? Orang bisa bilang ia dinamis dan ambisius. Orang bisa bilang ia paling tak tahan jika tidak menikmati keindahan wanita. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Aku hanya jadi terpikir untuk mempertanyakan siapa yang sebenarnya penyendiri itu lebih sebagai dampak kedua mata liarku ini menangkap sebaris aksara yang menyambut diapit tangga. M’isolo e vivo.

M’isolo e vivo??

Lorong Depan Villa Isola [sumber foto: Google, sumber asal foto: De Eerste Uitgave: Villa Isola - W. Lemei, 1934]
Lorong Depan Villa Isola (sumber foto: Google, sumber asal foto: De Eerste Uitgave: Villa Isola – W. Lemei, 1934)

Ya. Itulah kalimatnya 🙂 m’isolo e vivo. Schoemaker tampak langsung paham dengan

ketidakmengertianku yang ditunjukkan dengan bahasa tubuh. Ia langsung saja menyatakan, “Ik leef afgezonderd en ik leef! Tuan Berretty ingin orang-orang mengenal dan memahami siapa sesungguhnya ia, Nona. Ia meminta saya mengabadikannya tidak hanya dalam sentuhan yang saya pahami. Ia ingin lugas menyatakan. Itulah kenapa saya memenuhi keinginannya itu tepat di sini. Toh tidak mengganggu mata dan estetika. Bagaimanapun ia lah raja di istananya ini. Tapi.. emm.. ada satu hal yang tidak saya beritahukan secara eksplisit padanya. Sebenarnya saya pun menangkap bahwa ia tak sepenuhnya cukup siap untuk benar-benar sendiri. Saya yakin Nona akan mengerti nanti. Mari..”

Arsitek yang mengagumkan! Schoemaker yang mengagumkan! Ternyata kehandalannya bukan hanya sekedar memadupadankan gaya dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar, melainkan juga mampu menjadikan karyanya berkarakter.

Ah, sok tahu sekali kau, Kuk?! Apa pasal sampai bisalah kau nyatakan Villa ini berkarakter?

Ya ya ya, siapalah aku yang bisa-bisanya berkata seperti itu 🙂 berlatar pendidikan seirama dengan Schoemaker pun tidak. Tapi entahlah, aku bisa merasakan bahwa Villa ini seakan menjawab prinsip hidup Berretty sekaligus sesuatu yang kata Schoemaker tadi tak ia sampaikan secara eksplisit pada si pemilik. Aku bisa merasakan hal itu ketika Schoemaker dengan akrabnya menggamit lenganku dan mengajak berkeliling. Tanpa aku pinta, ia sudah menjelaskan dengan diam atau sesekali berbicara. Tampaknya ia sangat paham apakah di saat itu aku ingin sibuk sendiri dengan pikiranku mengagumi, atau justru ingin mendengarkan ia bercerita tentang “apa maksudnya ini”.

“Pianooo..”, aku langsung menghambur ke arah yang aku maksud, melepaskan gamitan Schoemaker ketika kami dengan fasih lulus melintasi setiap bagian lantai satu, lantai tiga, diakhiri dengan lantai dua.

“Kau suka?”, Schoemaker setengah tertawa kecil bertanya dan mengikuti.

“Sangat suka!”, aku membuka penutup tuts, “ya piano.. ya berada di sini..”

Jemariku sibuk sendiri mencari nada. Bersamaan itu kedua mataku langsung melahap habis pemandangan yang sama sekali tak terhalang sekat jendela. Yup, penempatan jendela kaca lebar tanpa gangguan ornamen apa pun itu sangat tepat menurutku. Biar tak ada mata yang tak terpuaskan dengan panorama Bandung 🙂

Ruang Duduk Lantai 2 Villa Isola [sumber: De Eerste Uitgave: Villa Isola - W. Lemei, 1934]
Ruang Duduk Lantai 2 Villa Isola (sumber: De Eerste Uitgave: Villa Isola – W. Lemei, 1934)

“Tuan Berretty penyuka keindahan ya?”, aku di sela permainan dan pemandangan.

Schoemaker yang baru saja duduk dan berusaha menikmati tak ayal berpaling, melemparkan senyuman, lalu kembali memandang jauh ke arah luar. Ia menjawab dengan diam. Anehnya aku mengerti dan mencoba memainkan satu serenade gubahan sendiri. Runutan denting itu membuatnya memejamkan mata, menyunggingkan senyum sekali lagi. Udara di ruangan ini seketika begitu familiar dirasa.

Lalu bagian mana yang tadi kau sebutkan berkarakter itu, Kuk?! Sudah lupa ya?

Dominique Willem Berretty [sumber foto: Google]
Dominique Willem Berretty (sumber foto: Google)

Em? Aku tidak lupa kok 🙂 sepanjang berkeliling tadi, aku jadi semakin yakin bahwa Schoemaker benar-benar mendedikasikan Villa Isola ini untuk Berretty tanpa kehilangan identitas rancangannya sendiri. Villa ini memungkinkan jika Berretty sedang ingin sendiri, tapi juga tak kehilangan fungsi ketika Berretty ingin bersosialisasi dengan cara yang ia suka.

Seandainya Berretty tidak keluar dari Villa sama sekali, ia tak perlu kuatir. Asalkan ia sudah mempersiapkan perbekalan dengan baik, semuanya ada di sini. Kamar-kamar yang nyaman dengan bentangan panorama siap memuaskan mata, ada. Dapur dambaan wanita, ada. Kenyamanan bekerja pun terjaga dengan Ruang Kerja yang didesain tepat fungsi. Untuk berolahraga pun sudah disiapkan Ruang Olahraga, Lapangan Tenis, bahkan Kolam Renang.

Jika ia kesepian, ia tinggal mengundang siapa pun yang ia inginkan. Sudah ada Ruang Bar yang dilengkapi fasilitas ala Bioskop pada zaman itu menunggu. Apabila ia bermaksud mengadakan pesta, ada ruang-ruang di lantai satu yang bisa dialihfungsikan sebagai emm.. semacam ball-room kalau menurutku.

Oh iya, tak ada yang didesain “berat” di Villa ini. Meski pun Berretty penyuka keindahan, belum lagi dengan keberadaan beberapa patung-patung artistik yang ada kalanya berkesan vulgar, Schoemaker berhasil memindahkan kesan “berat”. Hal ini bisa jadi karena dukungan penuh luas bangunan Villa itu sendiri.

“Serenade-mu bersesuaian dengan Villa ini, Nona. Tampaknya kau sudah mengerti yang saya maksud ya??”

“Iya..”

“Mungkin sesekali nanti kau harus coba mampir ke rumah saya sendiri, Nona. Saya ingin tahu apa kau bisa menemukan musik yang tepat untuknya.”

Aku yakin Schoemaker tak melihat senyumku, aku masih menyibukkan jemari mencari-cari nada yang tepat.

“Ah, Tuan Schoemaker, boleh aku bertanya?”

“Silakan..”

“Ada ornamen yang menarik di dinding sisian tangga yang kita lewati tadi. Apa maksud penempatannya di sana?”

Sisian Tangga Turun [sumber: De Eerste Uitgave: Villa Isola - W. Lemei, 1934]
Sisian Tangga Turun (sumber: De Eerste Uitgave: Villa Isola – W. Lemei, 1934)

Schoemaker berbalik. Ia tersenyum (lagi). Pelan ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri aku yang masih tak mau melepaskan diri dari Si Piano. Lelaki itu awalnya hanya berdiri, terbersit ingin menyandarkan tubuh di kayu penampang nada-nada itu. Tapi tak jadi. Pelan dan masih tak bicara ia membuatku sedikit bergeser dari posisi dudukku semula. Tak ikut bermain, tak merusuhi, tak lancang merengkuh bahu, ia hanya duduk, masih diam dan dalam senyum.

“Saya yakin hatimu mengerti, Nona. Saya sendiri tak tahu harus menjelaskan dalam bahasa apa, karena saya tahu kamu sudah sangat bisa memahami seisi Villa ini.”

* * *

Referensi:

Advertisements

2 thoughts on “M’isolo E Vivo dan Aku Berada Didalamnya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s