10 Hari Bersamamu: leaving Bandung for Kuala Lumpur

26.12.2010

Entah aku sudah sempat tidur berapa jam lamanya. Aku hanya ingat, selepas Subuh aku langsung bergerak cepat saja. Tak merasa perlu mandi pagi, mencukupkan diri dengan cuci muka plus menyikat gigi. Aku langsung saja menyambar ransel, mengenakan kaus kaki & sepatu, mengunci pintu setelah sempat pamit pada si Ndut dan Mpink. Satu kecup mesra untuk masing-masing dari mereka setelah semalam kami bertiga tidur berpelukan. Sadar-sadar aku sudah berada di taksi menuju Husein Sastranegara.

Bandung - Kuala Lumpur
Bandung - Kuala Lumpur

Sekitar pukul 5.15 aku sudah duduk manis di ruang tunggu luar. Check-in sudah. Membayar tax bandara sudah. Mengurus bebas fiskal juga sudah. Hanya saja belum waktunya boarding, gerbang belum dibuka. Jadilah aku celingak-celinguk seadanya. Buka Snaptu di ponsel demi terhubung ke FB dan Twitter. Saling berbalas komentar dengan para mahasiswa yang kebetulan pagi itu juga terbang menuju Manado dari Jakarta, atau malah ada yang belum tidur dari semalam. Sesekali aku mengamati para calon penumpang lainnya. Jika diperhatikan, kebanyakan dari mereka memiliki sampul paspor yang sama, berkewarganegaraan Malaysia. Aku berpikir, “Ceritanya mudik deh ini kayak na mah.. heuheu..” 

Ada sedikit rasa lapar menyergap, aku meraih coklat yang jadi bekal dari tas kecil *ehemm.. mbak Diella.. mbak Diella.. pin Cita Citarum-nya aku sematkan loh di tas itu..*, menghabiskan sekotak susu coklat, lalu kemudian hening lagi. Aku mencoba menikmati pagi di bandara dengan seksama. Satu demi satu kalimat yang terlintas sudah aku tuliskan saja di buku catatan kecil yang masih kosong dan sedianya memang akan digunakan untuk mencatat di sepanjang perjalanan. Tanpa sadar aku tiba pada kebiasaanku, memperhatikan orang. Hanya memperhatikan, tanpa memotret. Diam sejenak, lalu menuliskan. Kembali memperhatikan, hanya memperhatikan. Diam sejenak, lalu aku tuliskan. Terus begitu. Sampai akhirnya tiba waktu boarding.

Husein Sastranegara di pagi keberangkatanku
Husein Sastranegara di pagi keberangkatanku

Sama sekali jauh dari dugaan, cuaca Bandung pagi itu cerah sekali 😀 ada Tangkuban Parahu yang melepas kepergianku, disertai Burangrang dan beberapa pegunungan/perbukitan lainnya yang (baru aku sadar ternyata) mengelilingi pelataran bandara. Woooowww.. aku merasa kepergian ini istimewa jadinya!

Mau tak mau aku jadi teringat percakapanku dengan Mas Arya, sekitar 2-3 minggu sebelum keberangkatan. Waktu itu, aku terlalu susah untuk mengiyakan juga membatalkan. Masalahnya apa, kami sama-sama tahu. Keinginanku sebenarnya apa, sayangnya kami pun sama-sama tahu.

“Kata hati kamu bilang apa, Ayu.. ikuti itu..”

“Semustahil apa pun?”

“Semustahil apa pun..”

“Kalo kamu bersungguh-sungguh dengan keinginan kamu, Tuhan pasti nggak akan abaikan itu.”

“..”

“Percaya aku kan?”

“Ya..”

“Dan kamu akan kuat.. kamu harus yakin..”

Mau tak mau aku pun jadi teringat, jika setiap kali aku pergi dengan keyakinan penuh, aku tak akan pernah benar-benar sendiri. Alam mengantarkan dengan keriaan ala mereka, bukan hanya Angin, tapi segenap semesta. Sangat menyenangkan!

Maka sungguh tak ada alasan untuk tidak menikmati perjalanan yang sempat dirasa tak mungkin terjadi ini. Aku sudah mulai bernyanyi dalam hati.

Burung-burung pun memberikan salam, dalam kesejukan dan indahnya pagi..
Seandainya suasana pagi ini kan sepanjang hari, betapa bahagia..

Bandung, aku pergi dulu ya 😀

Bapak-bapakku, Ibu-ibuku, Kakak-kakakku, Kembaranku, Adik-adikku, Anak-anakku, Kawan-kawanku.. aku pergi dulu yaaaa.. sampai jumpa tahun depaaan..

..

[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s