10 Hari Bersamamu: Halo Lagi, Kuala Lumpur!

26.12.2010

met Clooney (2009)
met Clooney (2009)

Dulu.. dulu itu.. pertengahan Agustus 2009 adalah kali pertama aku mampir di Kuala Lumpur. Mampir transit di LCCT, jalan-jalan ke KLIA bareng mbak Ria & Om Ari, sudah. Sama sekali tidak keluar dari area bandara yang luaaasss itu. Meski setidaknya aku jadi punya foto bareng Om Clooney dunk di KLIA (baca: George Clooney). Lebih tepatnya, pose dengan gambar iklan sebuah jam tangan di salah satu toko yang berada di KLIA hihihi 😛

Kali ini, ketika mengetahui bahwa spot awal overland menuju Siem Reap akan dimulai dari Kuala Lumpur 😀 aku sudah sibuk mencari tahu apa saja kira-kira yang akan menarik untuk dilihat sebelum perjalanan kemudian akan dilanjutkan menuju Penang. Penang? Iya, Penang 😀 rencananya kami (Mas Arya & kawan perjalanan lain, plus aku) akan bertemu di Kuala Lumpur, lalu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kereta api menuju Penang. Hemm.. aku sudah mengangankan mencoba naik KLIA Express/Transit, tapi karena itu agak mahal ya aku turunkan target untuk mencoba naik Sky Bus atau Aero Bus saja menuju Stesyen Sentral (yang awalnya jadi meeting point). Aku sudah mengangankan untuk nyasar seorang diri di sekitaran meeting point tersebut. Aku sudah mengangankan ingin memotret apa dan jajan apa. Meriah deh pokoknya 😛 sayangnya, 

“Yu, nanti aku jemput di LCCT ya. Savitri pesawatnya sampai jam 3an. Tapi aku nggak datang pas jam sepuluh. Mungkin jam 12 atau 1.”

Yaaaa 😦 terjadi perubahan rencana, Sodara-sodara. Jadinya malah Mas Arya menjemput aku juga deh. Padahal kan pesawatku tibanya lebih awal, sekitar pukul 10 waktu Malaysia. Hemmm.. ya sudah 😀 otakku segera berputar lagi. Pasti ada yang menarik kan di LCCT? Kalau perlu, naik bus ke ke KLIA, jalan-jalan di sana, pasti sudah ada perubahan yang menarik 😉

Sarapan Pagi pertama di LCCT
Sarapan Pagi pertama di LCCT

Nah! Hal pertama yang aku lakukan begitu tiba di LCCT dan terlepas dari urusan Imigrasi adalah m-a-k-a-n! Laparnyaaa. Aku butuh lebih dari sekedar coklat 😀 Setelah sempat menyasarkan diri ke food-court LCCT, aku malah balik lagi ke sekitaran gerbang keberangkatan/kedatangan dan pilihan jatuhlah pada Nasi Lemak! Ini agak lucu, karena awalnya aku sudah menganggarkan untuk makan Nasi Lemak biasa saja, lauk sapi. Bukan yang spesial, lauk ayam, yang lebih mahal. Karena aku mengincar jajan segelas susu coklat hangat 😀 heuheu. Tapi ya sudah, jangan pelit-pelit jugalah buat sarapan pagi. 14,6 MYR itu masih dalam batas toleransi jajan kok *lewat 4,6 MYR maksudnya dari anggaran sarapan awal.. hihihi.. *

Usai sarapan, sekitar pukul 11 waktu setempat, aku mulai duduk manis. Ya, tadinya memang ingin jelajah LCCT bahkan KLIA, tapi kok ndadak si aku hanya ingin duduk saja. Aku langsung memilih spot yang tidak terlalu ramai orang, tapi ternyata ramai asap rokok 🙂

menanti di LCCT
menanti di LCCT

Tik.. tok.. tik.. tok..

Pukul 11.30 waktu setempat. WLG, JAF, WNF, BHD, WLT, WUH, HBA, HWD, WTX, NBS, WQU, WMW, MT, DC, AGJ, WPK, BJR, AHG, WNL, WBY. Hemmh.. dah ah..

Tik.. tok.. tik.. tok..

Pukul 12 waktu setempat. Ada Gagak botak mondar-mandir bersama dua Gagak lainnya yang justru tidak botak. Mungkin Gagak botak itu bapaknya ya? Atau suaminya? Atau kakak tertuanya? Entahlah.

Tik.. tok.. tik.. tok..

Pukul 13.05 waktu setempat. Bocah perempuan kembar! Lucunya 😀 tapi seorang Ibu yang berdandan meriah kemudian malah mendadak membuat awan mendung yang beranjak pergi dari langit sekitar LCCT malah membuat suasana silau mendadak 🙂 ya biarlah. Selama ibu itu pe-de gitu kan?!

Tik.. tok.. tik.. tok..

Pukul 14.32 waktu setempat. “Kamu ada di mana?”. Aku membalas sekenanya. Kesal.

traktiran penebus
traktiran penebus

Tik.. tok.. tik.. tok..

Pukul 15. 15 waktu setempat. Aku menikmati seporsi nasi beserta lauk semacam Sapo Tahu dan Telur Puyuh sebagai pengganti waktu menunggu yang panjang di food-court LCCT 🙂 ceritanya traktiran penebus selain permintaan maaf. “Aku ketiduran, ga ada yang bangunin, Ayu.”. Ya sudah aku tersenyum 🙂 kesal menunggunya sudah menguap entah ke mana. Kan sudah minta maaf?

Berikutnya kami sudah bertemu dengan mbak Vitri, dan tanpa basa-basi langsung pula menuju tempat mangkalnya Aero Bus. FYI: Aero Bus ini sekali jalannya 8 MYR dari/menuju Stesyen Sentral ke/dari LCCT.

Tidak terlalu jauh. Perjalanan dari LCCT menuju Stesyen Sentral berlangsung hampir satu jam saja *bisa jadi kurang, aku lupa menghitung heuheu..* Kami bertiga langsung masuk ke area stasiun, dan Mas Arya menyarankan mbak Vitri dan aku untuk menitipkan ransel kami di tempat penitipan tas yang ada di sana biar tidak terbebani selama mampir ke beberapa tempat. Yup, sebelumnya aku sudah bilang ke Mas Arya kalau si aku ingin memotret beberapa tempat, jadi ya sudah, diputuskan untuk berkeliling dalam radius yang tidak terlalu jauh.

stasiun monorail
stasiun monorail

Usai menitipkan tas, kami memutuskan untuk naik monorail ke Bukit Bintang. Kata Mas Arya, tiga kawan lainnya sedang berada di sana. Waaahh.. pengalaman naik monorail pertama kali niy 😀 hem.. hem.. hem..

Apa rasanya naik monorail, Kuk??

Apa ya?? Emm.. lucu 😀 di jalur normal tidak akan terasa bedanya dengan ketika sedang naik busway atau KRL. Tapi begitu bertemu belokan 🙂 siap-siap pegangan. Aku jadi berpikir, apa rasanya ya jika daya magnetnya hilang. Bumm! Jatuh?? Hahaha.. aku sampai dipelototi kecil oleh mbak Vitri 😀 iseng banget sih soalnya *biasa.. namanya juga si Kuke dah.. hihihi..*

Ada poto di dalam monorail?? Ada, tapi blur 😀 dan agak susah memotret lazim karena saat itu monorail yang kami naiki padat penumpang. Harap maklum 🙂

Oh iya, di stasiun monorail ini, kami disapa oleh seorang pemuda lokal. Sepertinya dia sudah pernah ke Indonesia, ke Bandung tepatnya 🙂 dia banyak membantu memberitahukan apa yang kami kurang tahu dalam perjalanan ke Bukit Bintang. Keren?? Lupa-lupa ingat 🙂 soalnya dia lebih banyak bicara dengan Mas Arya.

lost in Bukit Bintang
lost in Bukit Bintang

Kejutan terjadi begitu kami menginjakkan kaki di Bukit Bintang. Ketiga orang yang hendak ditemui itu malah sudah balik ke penginapan mereka (mas Arya juga) sejak semalam. Letaknya tak jauh dari Stesyen Sentral. Nah loh? Jadi bagaimana?? Ya.. yaaa.. ya kami mengitari Bukit Bintang sampai hampir mencapai Twin Tower 😀 hanya sampai hampir mencapai Twin Tower lalu diputuskan untuk putar balik ke Central Lodge. Bukannya apa-apa, waktunya yang tidak memungkinkan.

Jadilah kami bertiga patungan naik taksi kembali ke arah Stesyen Sentral. Ternyata dengan taksi baru ketahuan jalan berputarnya cukup jauh ya? Hem.

Mendengarkan kami berbicara, supir taksi bisa menebak kami ini orang Indonesia. Lucu, dia sempat berpikir kami akan menonton pertandingan antara Indonesia Vs Malaysia di Bukit Jalil. Sayangnya tidak. Meski malam nanti kami akan naik bus dari terminal di Bukit Jalil, kami bertiga tidak akan ikut menonton, melainkan ada dua di antara ketiga orang yang akan kami temui itulah yang akan menonton di sana, yaitu: Om Eros dan Rully 😀 Rully ini aku sudah pernah kenal sebelumnya di perjalanan ke Krakatau. Sementara Om Eros, sama halnya dengan mbak Vitri, baru aku kenal di perjalanan kali ini. Satu lagi, Oscar namanya, aku lebih senang memanggil dia “O”. Dia bertubuh tinggi besar dengan porsi makan yang benar-benar seimbang dengan ukuran tubuhnya. Bukan seperti beberapa orang bertubuh besar yang aku kenal, yang justru porsi makannya kalah denganku 😛 wew.

O & mas Arya.. nyum nyum..
O & mas Arya.. nyum nyum..

Benar saja, O membuktikan pilihan menu dan porsi makanannya ketika mbak Vitri protes kelaparan *ooopss.. iya yak.. waktu aku dan mas Arya makan sore itu kan mbak Vit belum gabung.. hihihi.. sorry..*, yaitu menu serupa martabak India + roti Cane *jangan salah.. porsi martabaknya dua loh.. hihihi..* Sementara aku, mbak Vit, dan mas Arya memilih menu nasi goreng *bumbunya serasa bumbu kari India* plus telur ceplok. Kami sepakat memilih warung masakan India yang tak jauh dari Central Lodge. Murah loh. Aku yang makan seporsi Nasi Goreng Telur Ceplok plus Es Teh Limau hanya menghabiskan 4,5 MYR. Nyum.. nyum..

Beres acara check-out dari Central Lodge. Beres acara makan. Beres acara melengkapi keperluan perjalanan di 7-Eleven. Kami berempat kembali ke Stesyen Sentral untuk mengambil ransel dan membeli tiket, lalu bertemu dengan tante Riri (yang akhirnya dipanggil Bunda Riri saja) & Om Andi plus dua keponakannya. Setelah urusan tiket kereta selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Jalil dengan menggunakan kereta api semodel KRL AC (kalau di Jakarta-nya). Di sini, satu hal lagi luput diabadikan dengan baik mengingat suasana saat itu. Stadion pertandingan bola di Bukit Jalil. Dari stasiun Bukit Jalil sudah terlihat. Dari stasiun Bukit Jalil sudah ramai sekali orang. Aku memutuskan tidak memotret, hanya melihat saja.

Tunggu.. tunggu.. bukannya kalian akan berangkat menuju Penang dengan kereta api? Kenapa malah ke Bukit Jalil, Kuk??

Hem.. ooh.. jadi ceritanya begini 🙂 ternyata-eh-ternyata untuk tiket kereta ke Penang itu perlu reservasi. Pembelian langsung lebih potensial akan berakibat “tidak-kebagian-kursi”. Selain itu, karena om Eros dan Rully bermaksud untuk menonton pertandingan Indonesia Vs Malaysia setengah babak, dimana hal tersebut akan berbenturan dengan jadwal keberangkatan kereta api, ya sudah.. diputuskan untuk naik bus langsung ke Hat Yai (Thailand). Kebetulan manis-nya lagi, terminal bus sudah pindah ke Bukit Jalil. Maka tak perlu lagi bersusah payah menentukan meeting-point 🙂 secara kebetulan kami semua akur untuk bertemu di terminal Bukit Jalil.

Terlepas dari kekalahan Indonesia yang (untungnya) tidak menimbulkan kerusuhan di sekitar stadion dan terminal. Terlepas dari kekalahan Indonesia yang membuat Rully murung tak terhingga *pokoknya tuh ya.. ngeneeess mbangeti ngeliatnya juga..*. Bus berangkat sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Kursi yang nyaman. Supir India-Malaysia yang berwajah sangar tapi ternyata-eh-ternyata sempat menggoda (tepatnya mbak Vitri dan aku) dengan mengatakan bahwa kami salah naik bus. Sekat AC yang bolong.. sekatnya.. haaah.. sekatnya kok bolooonnggg?? Laahh..

..

[bersambung]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s