Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #14

10.08.2010: Sampai Nanti, Rote

Rasa berat tak bisa dijadikan dalih untuk tetap tinggal. Berkali-kali aku bersikukuh pula tak mau mengucapkan “Selamat Tinggal”. Aku masih ingin kembali, bukannya berlalu dan tak datang sekali-kalinya lagi. Hanya sajaaa.. ya itu tadi.. rasa berat tak bisa dijadikan dalih untuk tetap tinggal di Rote.

Kami berlima: mas Arya, Maia, mbak Henny, Lucy, dan aku menikmati sarapan pagi terakhir kami di Anugerah. Mama Be’a dan anak perempuannya, nona Ike, menemani berbincang dan bertukar alamat e-mail dan nomor ponsel yang bisa dikontak dengan mas Arya dan Maia. Para turis asing yang jumlahnya lebih banyak dari kami di ruang makan itu dijamin tak mengerti apa yang kami bicarakan, tapi paling tidak bisa menebak dari tampilan kami yang lebih rapi dari pagi sebelumnya dan bahasa tubuh saja ~_~

Sarapan Terakhir di Nemberala bersama Mama Be'a & cucunya, juga nona Ike
Sarapan Terakhir di Nemberala bersama Mama Be'a & cucunya, juga nona Ike

Dolorosa kembali membawa kami melalui jalan yang sama seperti saat meninggalkan Ba’a menuju Nemberala, bedanya kali ini arah yang ditempuh adalah sebaliknya. Musik ajeb-ajeb sedang dibuat minggat sejauh-jauhnya oleh mas Arya yang duduk di depan, berganti lantunan merdu Andrea Bocelli ~_~ hemmm..

Bésame, bésame mucho,
Como si fuera esta noche la última vez.
Bésame, bésame mucho,
Que tengo miedo tenerte y perderte después.

Quiero tenerte muy cerca,
Mirarme en tus ojos, verte junto a mí.
Piensa que tal vez mañana
Yo ya estaré lejos, muy lejos de tí.

tak akan jadi Rote yang terakhir
tak akan jadi Rote yang terakhir

Aku tak jelas merasa apa. Kaki meninggalkan, hati tertinggal. Ada suara, suara terlintas semata. Ada sosok-sosok melintas, sosok-sosok ya melintas saja. Ada suara manusia teringat Tuhan terpekik tertahan dalam ketakutan yang sebenarnya tak perlu ditakutkan ketika kapal cepat berada di tengah perjalanan, aku hanya mengernyit heran. Rasanya aku bermimpi hanya meninggalkan Nemberala, meninggalkan Ba’a, meninggalkan Rote, sampai-sampai akhirnya tersadarkan oleh semangkuk Bakso berteman Tahu dan izin icip-icip es Jeruk dari Lucy. Ternyata ini sudah di Kupang lagi T_T ahhhh..

Kami kembali menginap di Kelimutu untuk semalam di kamar yang lebih besar, karena kamar yang kami tempati sebelumnya sudah terisi, begitu pun sebagian besar kamar biasa lainnya. Rupanya ada rombongan Paskibra daerah NTT yang sedang menginap di sana.

Suite Room di Kelimutu
Suite Room di Kelimutu

Mai dan aku sama-sama terkejut, waaahh.. mewah sekali kamar ini untuk kami berdua. Satu tempat tidur King/Queen, satu tempat tidur untuk Dayang-dayang *istilahnya Maia nih..*, ruang tamu dengan sofa L, AC, televisi. Kamar ini bisa saja untuk kami berlima, toh hanya semalam dan besok pagi langsung terbang ke Jakarta *dan kalo jadi berlima sekamar ini juga kan.. biaya bisa ditekan.. begitchuuu..* Ahhh, jadi teringat Backpacker asing wanita yang datang sesudah kami mendapat kamar tadi, mestinya kami bisa berbagi kamar juga sih *hemmm..*

Karena hari masih terang, kami sepakat untuk singgah ke beberapa tempat di Kupang yang tidak jauh-jauhlah dari kota. Kakak-kakak tertuaku ini ingin membeli oleh-oleh, baik itu yang berupa barang maupun makanan khas ^_^

Atas rekomendasi mas Arya yang sebelumnya sudah pernah ke Kupang, kami mampir di toko souvenir Cinta Kasih. Ada yang beli tenun ikat, ada yang beli sampul Alkitab bermotif tenun ikat, ada yang beli souvenir kecil-kecil saja ~_~ semuanya ada. Mbak Henny dan Lucy sempat ingin masuk sebentar ke pasar yang ada di seberang Cinta Kasih, dan jadilah seorang nona penjual Jagung Bakar (yang sudah habis) jadi korban kameraku *hihihihi.. nona manis.. hayhay..* Sementara untuk urusan berburu daging Se’i dan penganan khas lainnya, kami diantarkan ke Sudi Mampir yang dinyatakan sebagai pusat oleh-oleh di Kupang.

berburu yang khas di Kupang
berburu yang khas di Kupang

Sesudahnya kami lebih menikmati masa beristirahat saja di penginapan. Finalisasi packing. Mandi. Lalu seusai Isya berjalan ke warung terdekat untuk mencari makan malam sekaligus diniatkan sebagai makan sahur awal ~_~ ya kebetulan besok adalah hari pertama Ramadhan. Bagaimanapun, rasanya tak pernah ingin melewatkan hari pertamanya. Pilihan jatuh pada seporsi Sate Padang untukku dan Lucy, seporsi Nasi Padang untuk mas Arya, Bubur Kacang untuk Maia, bubur Ayam untuk mbak Henny.

Hemm.. ini malam terakhir kami di Tanah Timur T_T terdengar sayup-sayup suara jamaah tengah sholat Tarawih entah di masjid sebelah mana.

Hemm..

Satu-dua hal kuperbincangkan dengan mas Arya, kami bertukar lihat Lonely Planet Indonesia beda generasi, lalu menandai bagian-bagian yang menarik untuk direalisasikan dalam waktu yang tak terlalu dekat juga tak terlalu jauh *amiiiin..*

Satu-dua hal diperbincangkan, lalu kami pergi tidur setelah mengatur alarm di ponsel masing-masing. Aku masih berharap kalau besok itu janganlah dulu besok T_T tapi aku sadar itu percuma.

* * *

11.08.2010 Sampai Nanti Kupang

Aku terbangun. Maia terbangun. Aku membangunkan mas Arya. Maia membangunkan mbak Henny dan Lucy. Terdengar penanda Imsak. Terdengar adzan Subuh. Usai sholat Subuh, turunlah kami. Mobil yang akan mengantar ke Bandara sudah menunggu dengan rintangan para Paskibra yang semangat sekali ber-push-up ria sembari lirik-lirik.

“Kau dikira seumuran sama mereka, makanya itu diliatin, ga peduli kena hukum lagi.”, mbak Henny sembari menggoda menyambutku yang sempat rikuh karena harus melewati pemuda-pemuda *pemudi-pemudi ada di sebelah mana gitu yaaa?? hadeuuhhh.. rasanya kayak lagi ngelewatin Laut Meraaahhh.. panassss..*

Beda dengan saat meninggalkan Rote, kali ini aku sepenuhnya sadar tengah menuju mana, bersama siapa, untuk tujuan apa. Sebagian menyebutnya pulang, tapi mungkin bagiku.. entahlah.. hemm T_T bagaimana dengan hatiku yang tertinggal di Rote??

sampai nanti Tanah Timur
sampai nanti Tanah Timur

Aku sepenuhnya sadar, si Burung Besi telah membawaku mengudara, lalu menukik, mendarat di Bandara kota penuh kungkungan. Hatiku berontak, namun tertahan cipika-cipiki menggelikan dari ketiga Kakak-kakak tertuaku yang baru, dan lambaian mereka plus hati-hati ala mas Arya.

Aku sepenuhnya sadar naik lalu duduk manis di bus Cipaganti yang membawaku kembali ke Bandung. Hatiku menangis tersayat-sayat, ada lubang besar kehilangan, ada yang tertinggal jauh di Tanah Timur sana. Hatiku berontak, inginnya menjauh lagi, namun tertahan pesan singkat yang masuk *dimana kelak.. itulah satu-satunya ucapan “welcome home” yang aku terima.. hemmm.. terima kasih yaaa..*

“welcome home..”

Aku kemudian sepenuhnya sadar, tak guna juga berduka meski Biru Langit yang berbeda sontak membangkitkan kerinduan. Padahal baru 5 menit aku menginjakkan kaki di Bandung ~_~ hemmm..

“Rote, tunggu ya. Nanti aku kembali..”

Advertisements

One thought on “Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #14”

  1. rote memang luar biasa. saya beruntung pernah menikmati keindahannya…
    dan berat sekali saat harus meninggalkan pulau indah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s