Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #13

09.08.2010 : Senja Emas Nemberala, Senja Perpisahan

Satu. Tiga. Satu. Empat. Dua. Satu. Dua. Satu. Tiga. Dua. Satu. Ahhh.. aku cukup terkejut dengan kenyataan sudah berhasil menemukan lebih dari sekedar 1-2 Bintang Laut gendut lucu ketika harus melalui Padang Lamun Pantai Nemberala yang sedang surut jauh.

Kapal kayu tak bisa merapat lebih dekat, jadilah kami harus rela turun lalu berjalan melalui air setinggi kira-kira selutut sampai sepaha sampai ke tepi pantai *kan kami berlima: mas Arya, Maia, mbak Henny, Lucy, aku.. tinggi badannya variatif.. heuheu..*

Menunggu kano kecil ya si Air tak terlalu tinggi juga untuk dilalui. Para Peselancar asing yang baru pulang pun berjalan ke tepi ~_~ ya sudah.. ikut berjalanlah kami melintasi rerumputan Laut yang tumbuh di pasir.

Bintang Laut yang menyambut di Nemberala
Bintang Laut yang menyambut di Nemberala

Satu. Tiga. Satu. Empat. Dua. Satu. Dua. Satu. Tiga. Dua. Satu. Baru kali ini aku melihat jenis yang seperti itu *lihat deh.. lihat gambar Bintang Laut gendut warna Oranye berhias Ungu-kehitaman..* ^_^ dan baru sekali ini juga aku mendapati ada orang yang geli-hebat demi mendapati dirinya tengah berada di antara belasan bahkan mungkin puluhan Bintang Laut.

Untungnya mas Arya tidak keceplosan mengabarkan bahwa Padang Lamun ini pun sebenarnya merupakan rumah beberapa jenis Ular Laut yang racunnya sangat berbahaya. Bisa-bisa bukan lagi sekedar tarik-tarikan baju demi yakin tidak ditinggalkan sendiri terjebak kegelian akan kerumunan binatang lucu *kataku sih.. Bintang Laut kan lucuuu..* tapi juga akan terjadi acara gendong-gendongan sampai beberapa meter ke depan *hihihihihihihi.. ga kebayang si aku juga.. bisa mati ketawa meski sebenarnya ya manusiawi lah itu..* dengan beberapa kelucuan yang berusaha diciptakan mas Arya untuk mengalihkan perhatian si korban Bintang Laut.

Aku sempat mendengar keheranan Pak Kapten, ia bertanya ke teman-temannya, “Memang Bintang Laut bisa menggigit??” *hahahahahahaha.. LOL.. sumpah atas-nama-jiwaku-sendiri.. saat itu sangat.. sangat.. sangat.. ingin tertawa habis-habisan sehabis-habisnya.. maap.. maap..*

FYI: nama korban Bintang Laut gendut lucu tidak disebutkan demi kebaikan di segala bidang heuheu *jangan kuatir.. jangan kuatir.. di area yang lebih umum dijamin aman heuheu.. rahasia kita-kita ajah..*

Bersyukurlah aku kemudian demi menemukan pemandangan yang sudah menanti kehadiran Senja dan *agak ge-er dikit nih* kehadiran kami ^_^ sehingga si korban Bintang Laut segera lupa akan kegelian-hebatnya tadi.

Terima kasih ya Tuhan yaaa..

Kali ini Langit tak menyajikan Matahari bulat sempurna. Kali ini pendar Bola Api lah yang akan turun rebah di batas Cakrawala. Intensitas cahayanya yang perlahan berkurang memberikan warna lain bagi pasir tepian Nemberala, menemani langkah para Peselancar dan masyarakat sekitar menuju pulang, menjadikan seekor Babi yang sedang mencari penganan sore lebih tampak sebatas bayang, bahkan kapal kayu bercat Putih dan Merah Muda yang bersandar jadi berkesan anggun.

Menjelang Senja Ketiga di Nemberala
Menjelang Senja Ketiga di Nemberala

Aku bergegas berjalan menantang pasir, karena seperti biasa ya aku inilah yang tertinggal di belakang ~_~ yang lain sudah berkumpul tak jauh dari gerbang masuk Anugerah dari arah pantai. Tapi yang ada aku malah tak berhenti di tempat mbak Henny, Lucy, dan Maia duduk manis menikmati bait-bait Senja. Aku terus berjalan menjauhi bibir pantai, tak bisa menahan diri ketika mendapati segerombolan bocah tampak sibuk dan sedikit ribut setengah berbisik di antara Pendar Bola Api yang kian sayup mengemaskan sekitarnya. Mereka sedang apa??

Gerombolan Bocah Nemberala mencari Belut Laut
Gerombolan Bocah Nemberala mencari Belut Laut

Mas Arya ternyata ikut mendekati bocah-bocah itu ^_^ mengamati dalam diam terlebih dulu, untuk kemudian bertanya mereka sedang apa di sana.

Ternyata-eh-ternyata bocah-bocah lelaki dan perempuan yang berbaur ini sedang mencari Belut Laut di sela-sela karang dan pasir. Tak saling berlomba, saling mencari bersama saja. Kalau berhasil menemukan Belut Laut, mereka segera memasukkannya ke botol air mineral bekas kapasitas 1500 mililiter.

Rupanya, tak hanya bocah-bocah. Aku sempat mendapati bayang lain yang bergerak menjauhi titik pancar keemasan Senja. Tampaknya seperti dua orang dewasa yang tengah memanggul sesuatu. Bisa jadi mereka adalah Nelayan yang pulang membawa hasil dan harus berjalan di sela surut karena kapal mereka tak bisa merapat lebih dekat.

Mereka pun baru pulang..
Mereka pun baru pulang..

Lalu aku berhenti. Berbalik. Berjalan ke arah Maia, mbak Henny, Lucy, dan mas Arya yang duduk di tempat yang lebih tinggi, menikmati nuansa keemasan yang terus dan terus mengental, membentang seperti tak kenal batas di depan mata mereka sambil sesekali memotret. Keempatnya menyambutku dengan senyum, aku pun tersenyum. Aku duduk di sisi terluar deret, tak banyak bicara. Kami semua tak banyak bicara. Kehilangan dan lebih suka menghilangkan kata-kata tepatnya. Tak setiap hari semua ini hadir dalam kehidupan rutin kami.

Lembayung menegas Emas
Lembayung menegas Emas

Ada rasa rindu yang tertarik keluar dari hati. Terlintas dalam segenap keemasan itu tak lebih dari lima jiwa yang sangat aku inginkan raganya ada bersamaku, bersisian duduk di atas pasir melalap habis apa yang tersaji di depan mata dengan multi-intepretasi yang rekat pada satu kesepakatan, “What a wonderful world God created..

what a wonderful world God created
what a wonderful world God created

Once we’re together, naturally
When I’m not here, and you’re not away from me
And we’re finally home..

I’m gonna kiss you, just like I did
That time the breeze slid through the open door
Then I know, I won’t miss you anymore…

Like I do now

Taking the wait as long as I can
Too many days is too hard to stand
So I’m on my way..

On an airplane, in the sky, in a taxi, on the Triborough Rail
Coming in, I won’t miss you anymore…

Like I do now

I wonder if you’re sleeping, I want to wake you up
I won’t miss you anymore…

Like I do now

[Chris Botti feat. Edie Brickel – Like I Do Now]

Perahu Kayu, besok kita sudah tak berjumpa lagi dalam lingkupan Senja romantis seperti ini ^_^ tapi aku yakin nanti kita akan bersua lagi dalam Senja yang jauh lebih dramatis.

..

*bersambung*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s