Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #12

09.08.2010 :: Biru-nya Ndao, Azure-nya Do’o

Bunda Bumi, Ia menyambutku dalam Biru yang entah kenapa jadilah kucinta
tak selekuk pun Awan kulihat turut menyambut
adanya hanyalah Pepohonan dan keheningan takzim merenggut
menurunkan kepala, meluruskan punggung,
berucap “Selamat Datang” pada hatiku
yang terlalu lama tak tahu rasanya pulang bersambut

Bunda Bumi, sekali ini aku merasa sungguh Kau, Dia, dan Mereka cintai
pasti telah pergilah rasa sepi, pasti telah pergilah rasa matinya hati
patrilah Biru ini dalam sepenuhnya aku, biar aku kenal kata “kembali”

Selamat Datang di Ndao
Selamat Datang di Ndao

Boleh percaya, boleh juga tidak, inilah Langit yang menyambut kedatangan kami di Ndao. Mau merekayasa Biru pun untuk apa ~_~ karena inilah sebenar-benarnya yang ada dan tersaji nyata di depan mata.

Aku jatuh cinta pada Alam Raya seisinya ~__~ tak tahu lagi bagaimana cara melekangkan Tuhan dari hati kecil ini..

Boleh percaya dan boleh juga tidak, ada keajaiban yang terjadi yang membuat hatiku “nyess” begitu memasuki perkampungan ~_~ suara adzan Dzuhur.

Sejak menginjakkan kaki di Tanah Timur dan berkeliaran ke sana ke mari, aku belum sekali pun mendengar ada suara adzan memanggil. Di Kupang, di Ba’a, di Nemberala, di Bo’a. Bahkan wujud masjid tak satu pun ada tertangkap oleh mataku, meski aku yakin.. pasti ada.

Di Ndao pun tak jauh berbeda, aku mencari asal suara adzan tersebut, tapi tak kunjung terlihat di mana masjid, di mana letak bangunan berpengeras suara. Malah tertemui seorang perempuan berkerudung bersama keluarganya yang menyatakan bahwa ada muslim juga di Ndao. Hemm.. bagaimana pun aku ingin berterima kasih pada muadzin itu ~_~ tapi dalam hati saja dimungkinkannya.

Ndao.. Ndao.. apa yang dipunya pulau ini??

Ibu Penenun di Ndao
Ibu Penenun di Ndao

Meski kami tak sempat mengelilingi Ndao keseluruhan, aku yakin Ndao tak sekedar pulau dengan para Perajin Tenun Ikat yang tak terkurung ruang *mereka menenun di halaman rumahnya loh.. emm.. ada juga yang di dalam atau di teras rumah sih..* juga bukan sekedar Pulau berpantai cantik. Ndao memiliki kehangatan, cenderung bersih meski sempat ditemui sampah-sampah plastik bekas makanan ringan di beberapa sudut jalan.

Maia langsung beraksi loh di sini ^_^ karena kebetulan di sepanjang perjalanan berkeliling kampung kami diikuti bocah-bocah Ndao yang penuh rasa ingin tahu ~_~ jadilah Maia mengajarkan pada mereka untuk kenal yang namanya membuang sampah pada tempatnya, bukan sembarangan membuangnya di jalan *applause yookk.. buat Maia..*

Maia & Bocah-bocah Ndao
Maia & Bocah-bocah Ndao

Kami melewati beberapa rumah-rumah khas yang bahkan telah dibangun sejak tahun 1973 *woooww.. keren ya?? jenis rumah seperti ini pun bisa tahan lama.. emmm.. atau mungkin sudah ada beberapa bagian yang diganti ya?? jadi penasaran..*

Salah Satu Rumah di Ndao, sejak 1973
Salah Satu Rumah di Ndao, sejak 1973

O iya, selain Maia yang punya kesempatan beraksi mengajarkan-membuang-sampah-pada-tempatnya, anak buah Pak Kapten kapal juga beraksi menyambut kami dirumahnya ~__~ kami langsung disuguhi Teh Manis Hangat dan Air Kelapa Muda plus dagingnya, plus-plus menjadi Tamu bagi warga kampung lainnya *weisss.. serasa jadi selebriti loh.. jadi tontonan penduduk karena kami yang beda.. emmm.. dan salah satu dari kami ada yang sempat ga nyaman gitu tuh.. heuheuheu.. berarti belum sah jadi Princess yaaa.. hihihi..* dan tak ketinggalan pula menjadi obyek rayuan para penduduk yang bertugas di bidang pemasaran hasil kerajinan di kampung ini. Tak mengapa tentunya ~_~ setiap orang kan boleh berusaha.

menjadi Tamu Kampung
menjadi Tamu Kampung

Ketika melanjutkan perjalanan berkeliling kampung ini pula (dengan tujuan akhir rumah Sang Kapten, untuk makan siang) kami mendapat kesempatan menemui pemandangan pembuatan jalan-setapak-bersemen yang dilakukan oleh warga ~_~ wahhh.. kerennya mereka semua ^_^

melalui rute pengerjaan jalan setapak bersemen di Ndao
melalui rute pengerjaan jalan setapak bersemen di Ndao

Tapi bagian yang paling aku suka selain Biru Langit yang tak pupus-pupusnya selama di Ndao (lagi-lagi) aku temui di rumah Pak Kapten. Wajah dan senyum tulus bocah-bocah yang penuh rasa ingin tahu ^_^ bocah-bocah yang lebih mudah diajak bercanda dan tanpa prasangka *ahhhh.. apa aku hijrah aja gitu ya ke Ndao?? ada banyak bocah-bocah beginiii.. sukanyaaaa.. *

Bocah-bocah Ndao (lagi)
Bocah-bocah Ndao (lagi)

Sayangnya, kami tak punya waktu lebih banyak lagi. Semakin sore, gelombang Laut membesar. Sementara kami pun masih ingin menyinggahi Do’o barang sebentar untuk sekedar menikmati Laut. Jadilah hati harus rela untuk meninggalkan Ndao tepat ketika kami selesai menikmati bekal makan siang yang dibawakan Mama Be’a dari Nemberala >,< berat sekali rasanya.. beeerraatttt..

Sampai jumpa lagi, Ndao!
Sampai jumpa lagi, Ndao!

Dan sayangnya lagi, kami pun tak bisa berlama-lama di Do’o, gelombang semakin menghentak, membuat kami merasa waktu sangat berbatas menikmati Azure yang sama di pulau yang jaraknya sekitar 15 – 30 menit (bergantung keadaan gelombang) dari Ndao. Hemm.. sepertinya memang tak bisa punya waktu singkat untuk menikmati kesemuanya secara sempurna dan menyeluruh *wew.. weeeww.. kapan balik lagi nih, Kuk?? hayo.. hayooo..*

Azure-nya Do'o
Azure-nya Do'o

Menurutlah kami pada Laut. Menurutlah kami pada Sang Kapten. Lalu aku pun sibuk memilih tempat duduk terdepan di kapal kayu yang begitu perkasa mengarungi tarian Gelombang yang terus.. terusss.. dan terus menaikkan tingkatan dinamisnya. Sibuk membiarkan Laut menciprati wajah dan beberapa bagian tubuhku berkali-kali tanpa kehilangan rasa suka cita dan enggan terganggu takut juga kantuk. Sibuk menjauhkan pelampung yang “wajib”, yang sudah aku turunkan derajatnya menjadi “sunnah”, membiarkannya teronggok manis di salah satu sudut.

Aku mau menikmati Laut selama aku bisa, membiarkannya merasukiku sebelum kembali terkurung kotaknya Kota. Aku mau menyanyikan apa yang belum Laut dengarkan terlontar dari dalam jiwaku. Hanya Laut dan aku saja, lebih dari sekedar cengkerama. Sebentar, melepaskan dan sepuasnya merasakan apa yang tak bisa Kota berikan untukku.

kembali ke Nemberala di posisi favorit
kembali ke Nemberala di posisi favorit

Come close your eyes, take my hand
Why don’t you jump with me deep into the great unknown
A fantasy..

An ocean to be explore where no ones gone before
Wonders everywhere, I’ll take you there

Oui, oui, deep in the sea
I’ll show you what I’m dreamin off
Oui, oui, jump in with me
let me be your ocean love

A million dazzling sight , a trip of magic light
Lead you through a green gold haze into the cave
The silver glimming and pearls and such a wonder world
See the coral reeves, beyond belief

Oui, oui, deep in the sea
I’ll show you what im dreamin off
Oui, oui, jump in with me
Let me be your ocean love

[Anggun – Ocean Love]

*bersambung..*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s