Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #11

09.08.2010 : Sebiru-birunya Biru Langit Ndao menyambut

Pulau Ndao berjarak sekitar 10 km Barat Nemberala, sementara Do’o sudah tak jauh dari Ndao dalam kisaran 15 – 30 menit (bergantung keadaan gelombang). Keduanya merupakan bagian dari 6 (enam) pulau berpenghuni dari 96 pulau yang termasuk dalam area Kabupaten Rote Ndao. Ada hari-hari dimana beberapa orang penduduk Ndao datang ke Anugerah (dan juga beberapa homestay lainnya di Nemberala) menawarkan Tenun Ikat pada para wisatawan. Dibanding membeli dari mereka yang datang, kami jauh lebih tertarik untuk mampir ke Ndao. Karena selain pusat kerajinan Tenun Ikat khas Rote, Ndao dikabarkan memiliki pantai yang cantik.

Sarapan Pagi kami
Sarapan Pagi kami

Jadilah pagi itu, seusai menghabiskan sarapan yang nyaris seragam berupa Roti tawar panggang, plus Telur Mata Sapi (yang tak lagi setengah matang) dan Crepes plus jus Pisang *cuma mas Arya nih yang milih Nasi Goreng.. jus Pisang-nya mah sama.. * kami berangkat menuju Ndao penuh suka cita ~_~ sempat terbersit dibenakku,

“Dua hari ngerasain sarapan di Nemberala.. rasanya kok jadi kayak atlet ya?? Heuheu.. “

Setelah sempat berbasah-basah demi diterjang ombak yang agak susah tenang di pagi itu, sementara kami harus naik ke kapal kayu bermesin berawak 3 (tiga), perjalanan melaut singkat menuju Ndao dan Do’o dimulai ^_^ entah siapa yang paling senang, tapi bisa jadi aku lah yang teramat sangat paling senang di antara semuanya ~_~ sudah bukan lagi rahasia lagi jika rinduku pada tarian gelombang yang mengikuti nyanyian hati Poseidon menumpuk nyaris kehabisan tempat. Berkapal kayu seperti inilah yang paling aku nikmati, jauh beda sensasinya dengan kapal cepat.

menuju Ndao
menuju Ndao

Matahari yang tampak cepat menapaki Langit memberikan panas terik lebih. Bagi kami yang bukanlah penduduk asli, panas seperti ini harus ditawar dengan penutup kepala agar tak terlalu memanggang Otak didalamnya. Maia, mas Arya, dan mbak Henny memilih duduk bahkan tiduran di bagian kapal yang bertutup terpal. Lucy duduk di bangku kayu sisi Kanan, sementara aku sibuk menikmati pandang tak terbatas di sebelah Kiri.

Laut kurindu, Laut kucinta
Laut kurindu, Laut kucinta

Terlalu lama tanpa pemandangan seperti ini *hemm.. padahal baru dua bulan lebih.. rasanya kok ya kayak yang dua tahunan gituuu deh.. heuheu.. biarin ah lebay juga.. * lagi-lagi entah kenapa aku tak punya cara lain selain bernyanyi. Bukan lagu yang asing untuk Laut, aku sudah pernah memperdengarkannya ketika aku merayu Lumba-lumba Liar memunculkan diri, meski ini tak murni tentang Laut. Entah kenapa lagu ini selalu ada bersama di tiap perjalanan, tak mesti ketika melaut.

It’s been too long since I could see the stars overhead
We used to count them, shared all our passions, and swore not to tell
I hold them now and now I know where those stars fell
Days would fly by when you were mine
Like these dreams I have known..

I still go back, in the memory of your shores
Left you there waiting, so long ago..
Right there, in the memory of my home
Anticipating one day you’ll follow..

[Memory of Your Shores – Anggun]

Semakin lama aku perhatikan, Biru Langit semakin tegas. Sempat terduga itu hanya perasaanku saja, tapi nyatanya sama sekali tidak. Ndao yang masih agak jauh sudah tampak siap menyambut. Anehnya, ke mana Awan-awan beranjak menghilang??

Pulau Ndao
Pulau Ndao di Depan

Maia dan mas Arya sudah bangun. Mbak Henny kian siaga dengan si Ganteng-nya *psstt.. ada pesanan ga boleh sebut merek lagi niy heuheu.. kalo yang ikutin reportase ini dari awal pasti udah ngerti ya spesifikasi si Ganteng hihihi..* Lucy menegakkan punggung. Aku?? Aku sudah terpesona habis-habisan dengan apa yang membentang ketika kapal kami semakin mendekati tepian Ndao! Kalau saja kalian (entah siapa saja) semua ada ditempatku berdiri di waktu yang sama, sepertinya aku berani menjamin kalian akan bereaksi sama sepertinya halnya aku dan Kakak-kakak tertuaku.

“Wooooowwww.. ini bukan Rote iniiii.. Maldiveeee.. “, Maia sudah riang gembira.

“Warnanyaaaa..”, mbak Henny sudah berkali-kali klak-klik si Ganteng.

“Cakep bangettt..”, ini Lucy.

“Gimana, Yu? Kamu suka kan aku ajak ke sini?”, tanya mas Arya tepat ketika kami menginjakkan kaki di pasir Ndao.

Aku ingat menyunggingkan senyum sambil tak lepas mengagumi apa yang kutemui, lalu lirih menjawab, “Makasih ya, Mas.”

Selamat Datang di Ndao
Selamat Datang di Ndao

Kami tak buru-buru meninggalkan pantai. Pak Kapten dan kedua awaknya membereskan kapal sebelum perjalanan sedikit berkeliling di Ndao dilakukan. Sambil menunggu, tampak para penjual Tenun Ikat dan kerajinan khas Ndao lainnya menghampiri dan menawarkan dagangannya. Maia tampak cling.. cling.. terpikat ini-itu-sana-sini ^_^ mbak Henny dan Lucy menemani. Sementara mas Arya dan aku tak mau kehilangan momenta, mengabadikan apa yang tak bisa dipungkiri indah bagi mata. Seindah ini, Indonesia!

Sambutan Ndao
Sambutan Ndao

Ayo lanjutkan.. ayo lanjutkan.. ^_^ kira-kira keindahan apalagi yang sudah menyambut di perkampungan?? Ayo langkahkan kaki, tinggalkan dulu para penjual cinderamata, itu bisa menanti ^_^ ayo lanjutkan ~_~ aku sudah mulai tak sabar.

ayo lanjutkan ke perkampungan..
ayo lanjutkan ke perkampungan..

..

*bersambung.. yang nulis ada kelas pagi hihihi..*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s