Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #10

08.08.2010 : Oeseli, kami datang dan pergi

Pohon tua dan juntaian akar-akarnya di satu sudut jalan seakan penuh selidik menatap kami berlima yang datang dengan 2 (dua) motor. Entah hanya perasaanku saja atau memang atmosfer warna-warni kini sungguh-sungguh mengarak abu, mulutku terkunci dan kamera aku matikan. Senyum tetap aku upayakan tersungging tulus sebagai bentuk reaksi tatap mata dari beberapa penduduk yang sedang berada di luar rumah, meski bisa dikatakan sore itu Oeseli cukup lengang dan tenang.

Selamat datang di Oeseli yang merupakan desa nelayan tradisional di pulau Rote (wilayah kecamatan Rote Barat Daya).

Selamat datang di Oeseli
Selamat datang di Oeseli

Berdasarkan hasil googling, aku menemukan fakta bahwa desa ini tidak semata-mata menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan Laut dan budidaya Rumput Laut. Desa ini pun memiliki sawah dan ladang jagung. Namun, dikarenakan curah hujan di desa Oeseli ini acap kali jauh dari “cukup” bahkan “melimpah ruah”, gagal-panen bukan lagi hal asing jadinya.

Kami datang untuk mencari rumah-rumah asli nelayan. Valentino Robby menunjuk ke satu rumah yang bisa dikatakan rumah paling besar yang aku lihat sejak memasuki desa. Katanya sih itu adalah rumah Raja Oeseli *maksudnya mungkin Kepala Desa-nya bukan ya??*

Mas Arya masuk ke sana. Maia sempat masuk sebentar, lalu sudah keluar lagi. Lucy memilih tidak masuk. Bisa jadi karena melihat aku yang (entah kenapa) sangat enggan untuk masuk ke dalam ruang nyaris tertutup yang gulita itu *si aku tuh emang gitu kalo lagi jalan ke mana aja.. jauh-dekat.. kalo hatinya ga pengen mah mendingan enggak dah..*

Desa Oeseli
Desa Oeseli

Selama menunggu di luar rumah tua besar itu, aku sempat beberapa kali mengambil gambar. Itu pun dengan keinginan memotret yang susah payah muncul karena sempat tiba-tiba menguap entah ke mana *nahh.. kalo hatinya udah ga mau.. gini deh.. ckckckck..* Sampai di beberapa saat kemudian muncul seorang Nenek berwajah tirus pucat. Ia keluar dari rumah yang terletak berseberangan dengan tempatku dan Lucy berdiri. Kamera yang sudah menyala kembali sempat ingin aku bidikkan ke arah si Nenek. Tapi sontak aku turunkan lagi. Bidik lagi. Turun lagi. Bidik lagi. Turun lagi. Terbersit takut. Kedua matanya nanar dengan lingkar merah. Aku perhatikan lagi. Perhatikan sekali lagi. Perhatikan lagi.. lagi.. sampai kemudian hatiku mantap untuk memotretnya ketika si Nenek itu sedang tidak melihat ke arah kami. Klik! Hanya satu kali, lalu tidak lagi. Hanya satu kali ketika ia sedang duduk di atas makam entah siapa *suaminya mungkin?? entahlah..* lalu sudah kamera aku matikan. Meski begitu aku masih memperhatikan, sampai kemudian aku menyadari kalau kedua mata si Nenek sudah tak awas lagi.

“Aku ga berani, Yu..”, begitu reaksi mas Arya ketika aku memperlihatkan si Nenek dalam hasil jepretanku yang sekali itu *kebetulan malamnya itu aku pinjam laptop mas Arya buat lihat hasil jepretan sepanjang perjalanan ke-&-dari Oeseli.. kan aku yang bertugas motret sambil jalan.. heuheu..*

“Aku juga awalnya ga berani, Mas. Sempat ragu. Tapi ya udah aku potret aja.”

Sudah. Tak lama. Robby mengingatkan bahwa kami harus segera kembali sebelum hari gelap. Bukannya apa-apa. Ketiadaan lampu-lampu di sepanjang jalan yang akan dilalui untuk sampai kembali di Nemberala adalah fakta. Lampu motor tak akan memadai di sekitaran yang murni gelap gulita.

Mas Arya memacu motor dengan kecepatan penuh yang bisa dicapai. Beberapa kali kami sempat salah jalan. Untungnya di beberapa tempat masih bertemu penduduk. Saat-saat penting Matahari rebah di Nemberala sudah pasti tak terkejar, meski kami sempat berteriak-teriak tertahan demi melihat Matahari tampak begitu besar *kayaknya sih efek kami ada di dataran yang lebih tinggi dari Pantai Nemberala.. heuuuu.. benar-benar besar dan terlupa di-“tangkap”.. ahhh.. hemmm..* Namun, Tuhan itu super-duper baik hati ^_^ karena memberi siluet yang indah di sela-sela jajaran Pohon Tuak yang kami lalui.

Romantisme Senja Pohon Tuak
Romantisme Senja Pohon Tuak

Matahari sudah menghilang begitu kami tiba kembali di gerbang Anugerah. Aku segera berlari ke pinggir pantai, tapi aku pun sadar bahwa Matahari tak akan dengan isengnya muncul kembali untuk mengulang saat-saat terpentingnya sebelum utuh menjinggakan Langit sisian Cakrawala. Matahari sudah menghilang.. hemm.. tapi ^_^ aku tetap bahagia demi melihat jejak yang ia tinggalkan. Aku abadikan dalam beberapa ketukan jari di tombol penangkap masa.

Senja kedua di Nemberala
Senja kedua di Nemberala

“Sampai bertemu besok ya anak manis?! Aku janji esokmu akan lebih indah lagi dari hari ini”, itu lirih ucapan Matahari, sampai-sampai aku tak sadar, mungkin aku sudah tersenyum lebar saat itu.

..

*bersambung..*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s