Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #9

08.08.2010 : Berdiamlah sejenak di Maia’s Sanctuary

Apa yang kau tahu tentang surga?

Hemm -__-a menurutku, sama sekali tak perlu membuka semua kotak-kotak agama dan kepercayaan satu per satu, baik itu yang sudah disahkan atau masih berbentuk proposal bahkan gelap-sembunyi-sembunyi. Semestinya tak perlu ada pembedaan definisi lintas A-B-C-D-..-Z. Surga tetaplah Surga. Surga adalah tempat Hati tak merasakan apa pun selain “ya.. inilah..” ~_~ entah itu pada makhluk yang melabelkan dirinya sebagai Manusia, atau bahkan pada mereka yang selanjutnya didefinisikan sebagai Babi. Di Surga, sudah semestinyalah semua makhluk hidup berdampingan, berbahagia setara dalam kedamaian yang dijamin tak pernah ditemui sebelumnya di tataran Dunia.

Penikmat lain Maia's Sanctuary
Penikmat lain Maia's Sanctuary

Kedua telapak kaki telanjangku masih mengingat dengan jelas jenis-jenis Pasir Pantai yang pernah disinggahi. Selama hampir setahun belakangan ini pun aku hanya punya satu Pantai yang aku favoritkan tekstur pasirnya, Pantai Pulau Kiluan (Lampung), di mana yang terasa hanyalah lembut dan cenderung memadat, mengingatkanku pada tekstur es krim di Rasa (Bandung). Sejauh itu pula aku percaya, tekstur Pasir Pantai Pulau Kiluan pastilah bukan sesuatu yang sudah semestinya dikategorikan “langka”. Aku belum menyibak lebih banyak lagi keindahan tersembunyi Indonesia. Aku belum sepenuhnya benar-benar tahu pasti. Cita-cita kecilku rasanya mulai tumbuh berkembang, sampai-sampai aku curiga,

“Misteri sudah kehilangan berapa meter tirai yang perlu disibak ya??” ~_~

Maia’s Sanctuary yang sebenarnya masih merupakan bagian dari Pantai Bo’a (lebih dikenal dengan sebutan Sela Bo’a) tak diduga telah menjawab apa yang aku yakini ^_^ eh.. emmm.. sebenarnya Tuhan sih yang menjawab keyakinanku dan Pasir di pantai inilah yang menjadi perantaranya ~_~ tapi tetap kan aku harus mengucapkan terima kasih pula pada Pasir yang lembut??

“Terima kasih, Pasir”

Berbeda dengan Pantai Nemberala dan Bo’a, Maia’s Sanctuary ini jauh lebih sepi. Pengunjung tetapnya justru penduduk di sekitar yang hendak mencari Cacing Laut dan Babi-babi yang menguak Pasir. Itulah kenapa Pantai ini lebih dikenal sebagai Pantai Rakyat, bukan sesuatu yang “wah” karena didukung kenyataan bahwa Turis dan pada Peselancar kurang meminati sisian yang tak punya ombak  memadai untuk bersuka-ria bersama papan-papan pembelah tarian Laut.

Namun hebatnya, Maia’s Sanctuary yang tak dilirik ini sudah membuatku jatuh dalam “ya.. inilah.. ” lebih dari sekali sejak mendapati larik Azure di gerbang tak berpapan nama tadi *lihat reportase bagian ke-8 yaaa..* Bagaimana aku tak mendefinisikannya sebagai Surga??

Sandra, kakaknya dan cemilan manisnya
Sandra, kakaknya dan cemilan manisnya

Belum lagi di Maia’s Sanctuary ini pula pertama kalinya dalam hidupku menyaksikan seorang bocah perempuan cantik bernama Sandra dengan santainya ngemil Cacing Laut panjang berwarna Pink-muda yang potensial membuat pipinya menggembung besar jika mengulum tubuh Cacing Laut tersebut utuh.

“Manis..”, demikian katanya ketika Maia dan mas Arya mengejar gemas sambil bertanya apa rasanya ^_^

Heuheu.. memang susah untuk menahan gemas, karena Sandra iniii.. yaaa.. memang lucu sekali. Sang Ayah sibuk mencari dan mengais Cacing Laut dari Pasir. Begitu dapat, langsung dimasukkan ke Ember Kuning yang dibawa Sandra. Kapan pun ingin, si bocah mungil ini dengan santainya berjalan ke arah pantai, mencuci sekenanya si Cacing Laut dengan Air Laut, lalu.. hap.. tamatlah riwayat si Cacing *rest in peace ya, Cing* sebagai cemilan siang-menjelang-sore yang nikmat dan bergizi tinggi.

Sebelum meninggalkan surganya, Maia memintaku menyanyikan lagu nasional entah-apa-saja di hadapan bocah-bocah perempuan yang sedikit lebih besar dari Sandra dan Kakaknya -__-a hadeuh.. aku jadi bingung.. hemm.. yaaa ^_^ jadilah aku memilih untuk menyanyikan “Tanah Air” yang rasanya mendadak sudah terpatri mati di ingatan. Mereka diam memandangi, tampak jelas tak mengenali lagu ini meski pada akhirnya menghadiahkan tepuk tangan dan senyum tulus *jangan-jangan mereka awalnya pada ngarep aku nyanyi lagu band-band jaman sekarang ya?? hihihi.. aku kan ga ngerti malahan.. tapi ya kata Maia.. ga apa-apa mereka sebelumnya tuh ga kenal lagu ini.. setidaknya biarkan mereka mendengarkan sekali dengan harapan semoga mereka bisa mengingat dan kelak memahami apa artinya.. amiiin..*

Walaupun banyak negeri kujalani yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku disanalah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan

Sampai jumpa lagi, Bocah-bocah ^_^ belajar yang giat ya! Aku masih harus melanjutkan perjalanan menuju Oeseli.

Lucy dan Bocah-bocah Bo'a
Lucy dan Bocah-bocah Bo'a

..

*bersambung..*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s