Rote: Perginya Hati Menambatkan Diri #8

08.08.2010 : Menemukan Maia’s Sanctuary

Biru Langit. Wewarnaan Air. Senja yang mencuri hati. Segala yang membuatku merasa “pulang”. Rasanya masih ada yang membuatku tenggelam sepi dalam kurungan imajinasi-imajinasi. Sejak menginjakkan kaki di Rote. Sejak menghirup aroma Rote. Apa yang belum ditemukan di Rote?

Jelajah Motor Siang Bolong
Jelajah Motor Siang Bolong

Jadilah ini yang kami lakukan untuk menemukan apa yang belum ditemukan ^_^ jelajah motor siang bolong.

Usai makan siang, rasanya terlalu sayang untuk melewatkan waktu dengan hanya sekedar tidur siang. Pemikiran itulah yang kompak memenuhi benak Maia dan mas Arya. Memang mbak Henny sudah lebih memilih untuk tidur siang. Lucy membawa novelnya ke sisi teduh bibir pantai Nemberala, menikmati atmosfer membaca yang dijamin jauh berbeda dengan apa yang disajikan bahkan oleh kafe ternyaman sekalipun. Aku?? ~_~ aku menikmati menjadi si Bungsu yang senang-senang saja dengan rencana Kakak-kakak tertuanya yang berdiskusi singkat-cepat-padat-penuh-kerendahan-volume-suara*siapkan tameng.. kuatir dijitakin hihihi..*

“Ya udah, saya cari motor ya sekarang..”

“Terus si krucil ini dikemanain?”

“Ah, dia pasti mau-mau aja diajakin..”

“Ya udah kalo gitu..”

Lalu yang tampak pada gambar di atas itu adalah kalian bertiga menaiki satu motor, Kuk??

Oh ^_^ jelas bukan dunk!

Itu mas Arya, aku dan Lucy “The Princess” *tersenyum dan melambaikan tangan pada setiap penduduk yang ditemui di jalan menjadi tugasnya.. selain jadi asisten aku yang ganti baterai dan SD-card.. heuheu..*

Lalu Maia?? Tidak jadi ikut??

~_~ hemm.. jadi begini..

Mas Arya berhasil mendapatkan 2 (dua) motor untuk digunakan. Maia jadi bingung lagi ketika kunci-kunci diserahkan dan mas Arya berkata akan berganti baju dahulu. Pasalnya, Maia yang bisa mengendarai mobil itu tidak bisa mengendarai motor. Aku?? Wah, jangan diharapkan ^_^ keahlianku kan berjalan kaki dan naik sepeda heuheu. Maka.. hemm.. saatnya Lucy dipanggil ke markas.. jreng jreeng.. dan.. ternyata eh ternyata, “Aku bisanya yang matic..”

o_O wew.. mas Arya segera putar otak lagi.. masa iya sih siang ini harus dihabiskan dengan tidur siang?? *psst.. mbak Henny sih udah nyenyak.. hemmm..*

Satu menit..

Dua menit..

Tiga menit..

Tujuh menit..

dan puji Tuhan untuk Valentino Robby yang akan membonceng Maia, sekaligus menjadi penunjuk jalan menuju Oeseli yang menurut nona Ike (putri pemilik homestay) merupakan perkampungan nelayan yang masih memiliki rumah-rumah asli ala nelayan Rote.

Horeee..

Terima kasih Tuhan ~_~ *mmuaccchh..*

Perjalanan menuju Oeseli demi mendapatkan gambar rumah asli Nelayan Rote dimulai!

Eits, tapi tidak lupa isi bensin dulu ~_~ menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di waktu-waktu yang juga tidak diinginkan dilewati dengan acara mendorong motor bersama.

giliran motor yang makan siang dulu
giliran motor yang makan siang dulu

Valentino Robby dan Maia memimpin di depan, membelah jalanan mulus beraspal yang menjadi awal, melewati rumah-rumah penduduk dan deretan pepohonan Kelapa yang mendominasi, tanah kosong yang sudah dipagari dan menjadi area bersuka-ria 3 (tiga) ekor Kuda *kami sempat berhenti di sana.. penasaran.. siapa lagi nih pemilik tanah itu.. karena posisinya bisa dikatakan strategis untuk homestay atau resort berikutnya.. hemmm.. semoga bukan orang asing lagi aja sih.. *, 2 (dua) orang Turis yang nekad bersepeda di jalur tanjakan dan turunan yang lumayanlah untuk mereka yang tak tampak seperti Pesepeda tulen, jalanan yang tak lagi beraspal, lapangan luas yang menjadi gerbang masuk Pantai Bo’a, hingga menemui perkampungan berikutnya *masih di Bo’a*

Rumah Penduduk Bo'a
Rumah Penduduk Bo'a

Di perkampungan ini, rumah-rumah sederhana tak lagi sekedar berpagar pelepah Kelapa *eh.. beneur kan yah nyebutnya pelepah Kelapa??* namun ada juga yang berpagar karang-karang yang disusun sedemikian rupa, bahkan ada juga yang sama sekali tidak berpagar.

Lucy mau ke mana?
Lucy mau ke mana?

Tak terdengar keributan. Entah apa memang seperti inilah heningnya, atau mereka pun punya tradisi tidur siang, sepenuhnya ditelingaku terngiang bait-bait Damai Tapi Gersang – Ajie Bandi mengiringi aktivitasku mengambil gambar dari atas motor yang bergerak dikemudikan mas Arya *meski kami sesekali berhenti.. karena mas Arya juga pengen motret dunk.. heuheu.. tapi untuk menghemat waktu.. aku yang bertugas memotret sambil jalan.. perjalanan masih jauh..*

Di tengah keasyikan kami melintasi perkampungan yang lengang sekaligus menarik dan cantik ini, tiba-tiba motor yang digunakan Valentino Robby dan Maia ngadat! Lucy kebetulan melihat hal itu ~_~ sementara mas Arya dan aku sibuk memotret beberapa temuan yang menarik. Robby meninggalkan Maia sebentar. Maia berjalan ke arah hatinya ingin. Jadilah Lucy pun pergi menyusul Maia ke arah perginya, meninggalkan duo yang masih juga sibuk memotret.

Ada apa di balik gubuk itu?
Ada apa di balik gubuk itu?

Terbetik untuk mengikuti Lucy, tapi ya aku tetap tidak boleh meninggalkan mas Arya. Kasihan, nanti tidak tahu ke mana menghilangnya kami semua ^_^ hingga aku mengawasi keduanya dari kejauhan bersamaan sampai tepat saatnya buatku untuk berjalan ke arah tujuan Lucy.

Lamat-lamat terdengar suara Maia. Samar terdengar suara bocah-bocah yang -__-a hemm.. sepertinya suara-suara bocah perempuan tertawa, cekikikan. Aku melihat, sepertinya ada pantai di balik sana. Aku terus berjalan. Lamat-lamat aku mendengarkan suara nyanyian Bidadari-bidadari Poseidon yang berbeda bersamaan larik-larik Azure membuyarkan warna Gubuk dan Hijau di pohon yang menyambut bak gerbang tanpa papan nama.

..

<mati Angin>

..

<mati Angin>

..

Entahlah berapa kejap yang aku lewatkan, atau justru aku sepenuhnya tak berkedip dalam hitungan detik yang tak semestinya. Entahlah macam apa ekspresi yang aku perlihatkan pada Dunia. Tak ada kata-kata yang mampir. Otak pun tak memerintahkan Mulut berucap. Aku terikut mati bersama Angin itu setelah sebelumnya mengabarkan satu tanya, “Apa ini surga??”

Selamat datang di Maia's Sanctuary
Selamat datang di Maia's Sanctuary

Larik Azure yang mengintip tadi.. kini tampak jelas berpadu karang dan warna Pasir, berlatar Biru Langit berhias gerombolan Awan-awan yang sedang relatif rapi sekali menurutku. Cantik! Sangat cantik! Dan aku telanjur kehilangan aksara, ungkapan lain pun tak bisa kutemukan. Rasanya aku menjadi kosong seketika. Seluruh imajinasi yang menguburku mendadak pergi, berganti dengan ruahan imajinasi baru.

Hingga teriakan-teriakan girang Maia membangunkan aku dari diam yang bisa jadi cukup lama ~_~

“Aryaaaa.. Lucyyyy.. Keeee.. aku mau kasih pantai ini namaaaa.. aku yang nemu duluan yaaaa.. aku kasih namaaaa.. Maia’s Sanctuary.. yaaaa..”

Maia dan bocah-bocah Bo'a di Maia's Sanctuary
Maia dan bocah-bocah Bo'a di Maia's Sanctuary

..

*bersambung..*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s