Marah pada Tuhan

Mungkin sebagian orang akan menganggap ini perbuatan gila. Sebagian akan sibuk memperlakukan saya selayaknya orang penuh dosa yang perlu ikut pertobatan. Lalu sebagian lagi akan sibuk bisik-bisik-tetangga. Sisanya entah melakukan apa 🙂

Itu, ketika saya: marah pada Tuhan 🙂

Saya mengakui, saya pernah merasa marah, bahkan sangat marah pada Tuhan. *apa gunanya munafik tidak mengakui? toh pengakuan ini tidak akan meruntuhkan negara?*

Karena apa? Biar jadi rahasia di sepanjang ruang berdinding sekujur tubuh saya. Biar jadi rahasia satu/beberapa orang tertentu yang menurut saya pantas dibagi kerahasiaan ini 😉

Saya pernah marah pada Tuhan. Sangat marah pada Tuhan. Entah apakah di kemudian hari nanti saya masih punya keberanian itu.

Saya sadar dengan kemarahan itu. Ada yang saya lakukan meski.. meski.. yahhh itu sama sekali dijamin tidak merusak ekosistem dunia.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa kemarahan itu ada dan membuat saya entah berapa ratus kali ber-monolog dengan Tuhan. Bahkan berani-beraninya minta Tuhan ada-dan-sepenuhnya-ada agar saya bisa curhat dengan leluasa seperti ketika saya curhat dengan para sahabat yang jumlahnya tak seberapa dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Saya ingin Tuhan benar ada-dan-sepenuhnya-ada, merespon langsung semua curhat saya.

Hingga Pelangi pernah di satu kesempatan berkata, “Jangan samakan Allah dengan makhluk seperti kita!”

Mungkin saya gila. Ya.. bisa jadi saya gila 🙂

Tapi salahkah saya?

Saya pernah marah pada Tuhan. Sangat marah pada Tuhan. Entah apakah di kemudian hari nanti saya masih punya keberanian itu.

Bukan tanpa alasan hingga perasaan marah itu muncul. Bukan sembarang marah saya lontarkan, tanpa berusaha mencari sendiri penyelesaian demi penyelesaian. Bukan sekedar menyerah tanpa melakukan apapun. Bukan semata-mata karena satu tanya “mengapa” yang kemudian berujung pada “mengapa”-“mengapa” lainnya.

Hingga Bintang bertanya, “Memangnya kamu mau Tuhan bagaimana, Yu?”

Seketika itu saya tersadar gila. Meski tak yakin jika saya menggila.

Salahkah saya?

Tuhan, maafkan saya karena ternyata saya malah marah pada-Mu yang jarang marah pada saya 😐

Saya sering tak mudah untuk bisa melupakan: meski saya sudah sangat berusaha tak menyalahkan siapa-siapa atas diri saya, meski saya sudah berusaha untuk tak langsung meminta, tak ingin cuma bisa meminta.

Advertisements

One thought on “Marah pada Tuhan”

  1. ih gpp lagi marah ma Tuhan. khan dia ada buat kita. Marah ma Tuhan tuh aman, selain dia gak akan marah balik, berikutnya kita jadi makin tenang, dan mengerti kenapa dia gak marah balik, apalagi trus diikuti dg berdoa kusyuk, minta maaf karena ketidaktahuan kita.

    Buat gw mending gitu deh daripada marah sama manusia, selain akan nambah masalah, juga khan gak di ridhoi..

    Oya syarat utama ya harus yakin kalau dia itu ada dan sepenuhnya ada. Bahkan kalau perlu kadang Tuhan itu sudah muncul dalam bentuk temen baik, sahabat, atau pacar.

    Kuke: Thx ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s